Lagi-lagi balik ngomongin linux hehehe. Setelah kemarin sudah mencoba PCLinuxOS Gnome 2008 selama hampir sebulan, rasanya saya sudah agak bosan. Karena dalam PCLinuxOS itu walau sudah banyak sekali aplikasi pendukung buat multi media, mulai dari musik hingga video dan sound recorder bahkan sampai disk burning. Tapi saya rasa masih kurang mantab, karena sudah dicoba berulangkali buat setting desktop 3d juga masih gagal. Selain itu officenya juga kurang lengkap, cuman ada Abiword sama satu lagi untuk spreadsheet, lainnya nggak ada.

Akhirnya dipilih-pilihlah beberapa alternatif lain, dan pilihan jatuh antara Dreamlinux dan emaknya PCLinuxOS, Mandriva Spring 2008. Keduanya bisa dibilang sama-sama keren dari tampilan sudah ada Compiz Fusionnya sehingga bisa langsung mengaktifkan desktop 3d yang aduhai jika hardware anda support. Lebih-lebih pada keduanya juga sudah terbundle dengan open office. Dari tampilannya keduanay juga keren habis, Dreamlinux adalah sebuah distro yang tampilannya mirip dengan Macintosh, sedang Mandriva saya nggak tahu mirip dengan siapa mungkin Mandriva adalah Mandriva tidak seperti siapa-siapa :D

Nggak pake lama, langsung kupas tuntas mereka berdua saja ya. Sekarang ke Dreamlinux, yang kalau di distrowatch dan situs resminya sudah sampai release 3.1 tapi kalau di linuxtracker.org tempat biasa donlot lewat jalur torrent pada saat saya donlot adanya baru yang release 3.0. Distro asal brasil dengan desktop environtment XFCE dan Gnome ini bisa dibilang hebat juga, karena dari live CDnya kita juga bisa nambahin untuk install beberapa aplikasi yang belum ikut terinstall. Mulai dari Google Desktop, Google Earth, Azureus, Opera sampai NVidia Driver bisa langsung dari tuh CD. Hebatnya lagi, semua konfigurasi yang kita aplikasikan saat menggunakan LiveCD akan ikut terpakai setelah kita menginstallnya. Yang agak ribet dari distro ini adalah perilakunya yang agak nyebelin kalau kita klik di desktop, yaitu menampilkan menu seperti kalau kita klik tombol menunya. Disamping itu, saat mau diinstall di komputer, andaikan hardisk anda ada ruang kosong yang belum teralokasi dia belum mau di install. Kecuali sudah ada bagaian hardisk yang dah keliatan mau dipasang linux, semisal di format dengan filesystem ext2 maka tanpa dibagi-bagi untuk / dan /home maupun swap pun dia dah jalan. Sialnya lagi, dicari-cari tool buat partisi hardisk seperti Gparted juga tidak ada :( Pusing deh, mo partisi aja musti ribet lewat LveCDnya PCLinux lagi.

Dreamlinux desktop

Giliran Mandriva nih, Pokoke keren habis deh nih distro. Karena PCLinuxOS dikembangkan dari distro ini, maka tak ada satu rintangan apapun yang menghalangi saat menginstallnya. Di samping itu karena basis desktop environmet yang dipakai adalah KDE, maka hal itu membuatnya sangat mudah untuk digunakan, sangat familiar. Walau untuk multimedia kurang banyak sih, paling cuman video player, Kaffeine, sama Amarok yang biasa saya pakai. Menariknya lagi ada semacam update berkala yang bisa kita lakukan secara online di mandriva, seperti automatic update miliknya Microsoft gitu deh. Ada tiga versi dari Mandriva terbaru yang bisa kita peroleh dari websitenya saat ini. Mandriva One yang dikemas dalam CD, sebagaimana distro-distro lainnya. Ada pula yang versi USB yang lebih kecil, yang busa kita dapatkan dengan membelinya dari mandriva store. Ada lagi versi PowerPack, versi berbayarnya Mandriva yang diberlakukan karena keadaan yang memburuk dari mandriva yang terancam bangkrut. Tapi semuanya keren deh.

Mandriva Spring 2008 3d Desktop

Akhirnya jebol juga, setelah sudah lama saya mencoba bersabar dan tidak menuliskan tulisan yang menjelek-jelekkan pihak BenQ ( dalam hal ini Dian Graha sebagai distributornya ) dan tetap berbaik sangka. Sudah sejak tanggal 22 Februari lalu BenQ C30 saya menginap di Service Center, tapi sampai saat ini belum juga pulang. Kalau tidak seperti ini dan penuh dengan kejelasan sih nggak pa-pa. Tapi yang ini benar-benar menjengkelkan, membosankan dan membuahkan kecurigaan dan tanda tanya besar.

Bagaimana tidak, belum seminggu saya menitipkannya di Service Center ketika saya cek mereka langsung memberikan jawaban kalau butuh waktu satu sampai tiga bulan untuk merampungkan perbaikan atas hp saya tersebut. Capek deh, nggak kuat bayangin waktu itu. Melihat hal itu saya akhirnya berusaha untuk maklum saya tidak mengusiknya sama sekali selama satu bulan. Setelah satu bulan, saya datang lagi ( siapa tahu baru sebulan dah selesai ) dengan disuguhi jawaban ‘Katanya dari pusat masih tiga hari lagi mas, jadi kalo pasnya mungkin seminggu lagi’ pulanglah saya dengan kehampaan dan harapan. Seminggu, saya sudah hampir berangkat, tapi temen saya nyaranin buat telpon sana dulu, ngecek. Dan benar, ada lagi alasan katanya ‘ada trouble lagi mas dari pusat, nanti akan kami hubungi ‘ Nggak jadi berangkat deh. Sebagai gantinya kirim e-mail aja deh nanyain ke dian graha, sudah sejauh mana ? Tapi sampai saat ini belum juga ada jawaban.

Hampir dua minggu kemudian, saat maen ke kampus sama temen saya itu lagi, mau lihat bazar buku, sekalian mampir aja deh. Nunggu dihubungi ? Kapan ? ‘Akhir April deh mas’ Ok I hold that, begitu pikir saya.  Karena sedang nggak ada kesempatan plus keuangan lagi kritis ( nggak banget sih )  akhirnya sekalian aja deh, awal Mei saya beri kelebihan. Tapi apa yang saya dapat ? Masih sama saja. ‘Masih di pusat itu mas, kita udah coba tapi belum juga dikirim ( berarti dah jadi donk )’ Haaah, pusing deh, saya tak habis pikir betapa pongahnya mereka terus mengulur-ulur waktu, betapa bodohnya mereka menelantarkan Customer mereka dengan memberikan pelayanan level rendahan seperti itu. Betapa bodohnya pula mereka dengan semaunya memperlakukan pelanggannya seperti itu, apa mereka tak berpikir pada efek yang mereka dapatkan pada sisi pemasaran mereka.

POKOKE saya sangat mangkel deh, betapa mereka tidak profesional, betapa acak-acakannya system kerja mereka. Kalau sudah jadi mengapa tidak segera dikirim, kalau masih lama kenapa nyuruh saya menunggu seminggu kemudian ato apalah, terlalu banyak alasan. Sampai saat ini saya akhirnya memiliki kesimpulan pendek seperti ini :

1.Mungkin karena Siemens melebarkan sayapnya terlalu lebar kali ya, dari transmiter yang ada di BTS sampai mesin Bubut dan masih banyak lagi. Sehingga kalau dibandingkan pastinya masih kalah jauh hasil yang mereka dapatkan dari bisnis handset ini, sehingga bisnis yang satu ini tidak diurus secara maksimal. Bahkan cenderung di telantarkan.

2. Ini yang membuat saya menjadi bertanya-tanya dan menyarankan anda tidak membeli produk mereka dengan menulis judul seperti itu. Service Center yang mereka dirikan ternyata tak lebih dari sekedar mengikuti trend para distributor yang lain. Nyatanya kosong, itu bukan Service Center. Gimana nggak, karena masih penasaran kemarin setelah keluar dari bangunan itu, berhubung hujan deras nggak bisa langsung pergi deh, saya kembali masuk dan bertanya, apa jika sampai batas waktu yang mereka buat ( tiga bulan ) hp saya belum juga bisa pulang mereka akan bisa memberi solusi yang lebih mengenakkan ( replace misalnya ? ) Eh si mbaknya malah bilang kalau memang semua nyang rusak itu bakal diganti ( entah dia tau bener maksud replace yang saya maksud itu keseluruhan barang atau hanya bagian yang rusak ). Nah, kalau begitu kenapa nggak dari dulu saya dikasih hp yang baru saja. Kenapa harus buang waktu dua bulan dan tenaga saya. Nggak gratis lho bolak-balik ke situ mbak.

Eh mbaknya nambahin lagi gini nih ‘ Nanti kalau dah ada yang dikirim ke sini bisa kok mas yang saya kasih dulu, dulu khan sebelum mas juga pernah ada C30, jadi bisa saja kami memberikan dulu kepada mas. KAMI SUDAH BIASA KOK BEGITU’. Nah lho, gimana saya harus bilang ya atau tidak ? Ouw ternyata dah biasa ya begitu, bisa saja donk punya saya sekarang dah dipegang orang lain yang menservice  sebulan setelah saya.  Bisa saja donk nanti saya mendapat barang bobrok sisa orang lain. Apakah ada Service Center semacam itu selain miliknya dian graha ? Itu Service Center apa makelar ya ?

Dari itu lebih baik beli saja merek lainnya yang layanan purna jualnya jauh lebih baik, nggak seperti ini, katanya garansi tapi nyatanya malah dipersulit.

Hahhhh, pusing juga yah, kalo lagi seneng donlot itu apa-apa lupa deh, soalnya gak pernah puas sih. Dari hari ke hari selalu ingin untuk mencari yang lebih dan yang bisa kita gunakan dengan lebih mudah. Sampai-sampai aku dah nggak sadar menelantarkan blog ini selama berminggu-minggu. Memang banyak software gratis / freeware yang ada di Internet banyak membuat kita jadi lebih mudah untuk melakukan berbagi aktifitas. Ngomong-ngomong tentang download dan unduh nih, ternyata mendownload itu perlu banyak trik dan cara ya. Untuk file kecil dibawah 20 MB mungkin kita masih bisa tenang-tenang saja mendownloadnya dari browser langsung. Sedang yang 30 MB ke atas lebih enaknya kita biasanya memakai download manager semacam FlashGet, GetRight atau FDM.

Sayangnya pengguaan Download manager ini seringkali juga terasa kurang nyaman saat file yang kita unduh itu ukurannya sudah melampaui seratus MB. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa mendownload dengan cepat file- file dengan ukuran sebesar CD (biasanya distro-distro linux ukurannya sekitar 700 MB) ? Apakah ada lagi tool download yang bisa lebih cepat dari itu ?

Yup, jawabannya mungkin untuk saat ini belum ada aplikasi lain di dunia ini yang bisa memaksa kecepatan download kita untuk bisa melaju dengan lebih kencang melebihi kemampuan berbagai download manager tersebut. Tapi kalau cara mendownload, dengan jalan dan proses pen-download-an yang berbeda pasti bisa. Cara ini sering disebut dengan melalui jaringan torrent. Untuk menggunakan jaringan torrent ini, hal pertama yang perlu anda miliki adalah aplikasi client dari torrent itu sendiri ( tentunya dengan ditambah koneksi internet :D ) Setelah itu anda tinggal mencari file torrent dari satu file yang anda inginkan dari internet ( biasanya berekstensi .torrent ) lalu membukanya dengan aplikasi bittorrent tersebut untuk memulai mendownload.

Lalu, kenapa dengan mengguanakan torrent download bisa lebih cepat ? Oh ya gini nih, sebenarnya menggunakan torrent atau tidak itu sama saja. ia juga merupakan cara transfer file lewat internet. Bedamya, kalau kita mendownload seperti biasanya, baik melalui browser langsung atau dengan mengguanakan download manager itu, andaikan ada beberapa orang ingin memiliki setandan pisang, maka orang yang datang belakangan harus menunggu orang yang datang ( dalam ini mengklik tautan atas sebuah file yang kita inginkan ) terlebih dahulu selesai memperoleh utuh satu tandan terlebih dahulu. Baru gilirannya untuk memperoleh setandan pisang tersebut tiba. Dengan metode seperti ini, kita bisa saja mendownload dengan waktu yang sangat lama sekali, padahal file tersebut sebenarnya tak perlu waktu begitu lama jikan kita bisa mendownloadnya secara langsung tanpa menunggu.

Nah, di sini letak perbedaan antara bittorrent dengan cara download biasanya. Tapi sebelumnya kita ganti analogi kita tentang download tadi dulu ya, masak download disamakan dengan pisang nggak siippp deh :D Kita ubah sekarang, andaikan ada seribu orang yang menginginkan sebuah buku. Buku tersebut memiliki halaman sejumlah dua ribu lembar, dalam jaringan torrent, agar semua orang memperoleh buku tersebut, pemilik awal ( seeder dalam istilah torrent ) hanya perlu memberikan bagian-bagian dari buku tersebut kepada semua orang yang membutuhkannya ( Lheecer ) satu orang dua halaman misalnya. Kemudian mereka, sembari mendownload juga mengupload kepada sesama Lecheer. Akhirnya dari awalnya buku tersebut hanya berjumlah dua ribu lembar, bisa saja menjadi ratusan ribu lembar, sehingga memudahkan pertukaran lembaran antara lheecer dan seeder, ketersediaan dari pecahan-pecahan file inilah kunci kecepatan torrent.

Selain proses dan beberapa istilah tentang torrent di atas perlu juga dikatehui berbagai istilah lain seperti tracker, swarm, peer dan juga apakah sebenarnya file dengan ekstensi .torrent tersebut. Pada saat kita akan memulai mendownload, aplikasi yang harus kita buka adalah aplikasi client dari jaringan torrent tersebut. Dan yang lebih penting lagi adalah file dengan ekstensi .torrent itu sendiri yang berisikan link tentang file, jaringannya dan juga trackernya. Kurang lebih mirip dengan jika kita menginstal Yahoo! Mesenger yang kita peroleh dalam ukuran kecil itu, yang mengarahkan kita pada file sesungguhnya. Fungsi tracker dalam jaringan ini adalah sebagai server yang mengatur lalu lalang dai potongan-potongan file tersebut. Istilah Peer mungkin sudah akrab kita dengar dari hubungan peer-to-peer pada komputer, memang benar, peer di sini adalah orang yang dalam mendownload tersebut terkoneksi secara langsung dengan kita, entah sebagai pendownload maupun pengupload kepada kita. Sedang swarm adalah jumlah keseluruhan orang yang terlibat dalam jaringan yang tercipta dari aktifitas download kita tersebut.

Jadi jelas, lancar atau tidaknya proses mendownload itu sangat bergantung dengan jumlah potongan-potongan file yang ada. Yang juga bergantung pada jumlah orang yang masih tinggal dalam jaringan tersebut, baik setelah maupun sebelum acara downloadnya selesai. Karena inilah, torrent ini bisa dibilang bergantung sepenuhnya dengan komunitas yang mengadakan aktifitas download tersebut. Semakin banyak yang masih tinggal, semakin cepat proses download. Dan karena inilah disarankan, bahkan wajib, untuk ikut tetap membagikan file kita yang telah selesai kita download tersebut dengan tidak keluar jaringan ( menutup aplikasi ) hingga jumlah yang kita upload minimal sama dengan yang kita download. Bahkan ada beberapa situs yang mengatakan sampai dua kali dari apa yang kita download *ini yang berat :P*