Ngeblog Itu Racun

Sebenarnya saya sendiri seringkali merasa kebingungan atas kondisi diri saya sendiri ini.  Betapa tidak, ketika saya mencoba untuk bertanya kepada diri saya “Untuk apa kamu selalu onleni ngeblog ?” Saya pasti bingung mau membalas pertanyaan itu dengan kata apa, saya merasa itu adalah tanda tanya besar untuk dijawab. Sebuah misteri yang sulit untuk disingkapkan.  Dan sebuah pekerjaan rumah yang pantas untuk direnungkan lagi kebenarannya.

Karena memang saya merasa ada banyak perubahan dalam diri saya yang saya alami setelah aktif dalam dunia Blogosphere ini. Saya merasa ada perbedaan cara pandang yang begitu pokok dalam menghadapi berbagai masalah dalam realita sehari-hari saya. Saya rasakan adanya perkembangan yang entah itu baik atau buruk pada diri ini, tapi yang jelas ngeblog membuat pikiran saya selalu sibuk. Bukan sibuk mencari jalan keluar dari masalah yang saya  yang sering kali menyelubungi kehidupan keseharian saya. Tapi sering sibuk untuk memikirkan ide yang bisa saya pakai untuk menulis dalam blog.

Dan tanpa terasa ngeblog telah membuat pondasi berpikir yang kuat dalam diri saya. Cara pandang, berpendapat, berpikir dan berbuat sehari-hari jadi begitu terinspirasi dan terdorong dari aktifitas ngeblog. Seolah hidup hanya untuk ngeblog dan karena ngeblog, Parah. Ngeblog adalah bagian dalam hidup ini. Racun ngeblog telah merasuk dengan sukses dan dalamnya dalam benak dan pikiran ini, seolah sudah ikut larut dalam aliran darah dan ikut serta dalam tarikan dan hembusan napasku. Racun itu telah menyatu dengan diri ini.

Tapi di balik diri yang terasa sesak untuk bergerak dari rengkuhan kuat racun ini, kadang saya berusaha berpikir, dimana ? Dimanakah sebenarnya daya tarik dan bagian yang mengandung racun dari aktifitas ini ? Pencarian pun saya mulai dengan menelusuri jalan lalu sebelum saya masuk dunia yang satu ini.

Pada awalnya saya merasa bahwa memiliki suatu alamat web sendiri itu hebat, keren dan meningkatkan semangat diri. Bermula dari hal ini pula ada sedikit harapan untuk meraup keuntungan dari dunia maya ini. Meski akhirnya hingga hari ini hal itu belum dapat terlaksana, karena malu dengan ejekan para tetangga yang sebenarnya memang tak perlu untuk dihiraukan. Urusan kita masing-masing. Berangkat dari ingin memperoleh dan merasakan menjadi keren dan hebat beserta kemungkinan untuk meraup untung itulah, akhirnya tanpa rasa seperti itu yang mendasari dengan kuat blog ii tercipta. Blog ini tercipta begitu saja dengan hanya dilatar belakangi rasa senang untukl mencoba. Bukan angan di waktu fajar yang telah saya sebutkan itu.

Akhirnya blogging is go on. Berjalan apa adanya, dengan dibumbui cita-cita awal untuk berbagi, untuk menyebar pengetahuan dan sebagainya-dan sebagainya. Akhirnya tanpa sadar saya sudah terlalu jauh masuk dunia ini, dan tanpa saya ketahui racun telah mulai menyebar. Racun apakah ? Racun yang muncul sebagai efek samping dari perjuangan untuk berbagi dan saling memberi itu, yang ikut menyelip dalam kesamaran yang dalam  pada keinginan untuk bisa lebih  berbagi.  Dengan konsekwensi menambah jumlah teman.

Dari sinilah racun itu mulai masuk dan menyerang diri ini. Menambah teman, berarti harus banyak muncul di banyak tempat untuk dikenal dan ada yang mau berteman. Harus sering online, banyak memberikan komentar dan mengunjungi temapt-tempat baru. Dari sini efek samping itu beraksi, setelah memberikan komentar itulah, paling tidak kita akan menunggu untuk diberi komentar balasan, seolah orang yang telah kita beri komentar itu punya hutang pada kita. Padahal mereka tak meminta kita untuk mengisi komentar khan.

Harap-harap cemas akhirnya itulah yang terjadi, menanti kembalinya komentar yang telah kita sumbangkan itu kembali kepada kita.  Hanya menanti, nampaknya tak akan berjalan mengembalikan pinjaman kita itu. Harus ada yang menarik mereka untuk datang dan mengembalikan pinjaman yang telah kita berikan. Posting, sebagai wahana pemikat untuk datang pun akhirnya tercipta. Terus berputar dan berulang, hal ini selalu terjadi, beri pinjaman, menunggu dan memberikan umpan. Jadilah semua itu menjadi semacam lingkaran setan yang tiada habisnya.

Masih lebih ganas lagi racun ini ternyata juga sangat piawai memanfaatkan perasaan dalam diri kita. Saat kita sering meminjamkan komentar kemudian menerima pengembalian yang berulang-ulang. Dari sinilah akan muncul kedekatan dalam kejauhan yang lebih mengokohkan keinginan untuk selalu saling berbagi. Racun akhirnya semakin dalam menyatu dalam darah daging kita. Tanpa terasa kita telah menjadi orang yang begitu berharap akan adanya ‘pengembalian’ komentar kita yang telah kita ‘pinjamkan’. Hampir sama dengan orang yang ketagihan narkoba, selalu ketagihan dan ingin lebih, enggan untuk mengakhiri.

Setelah kita tergila-gila akan komentar balasan itu akhirnya kita semakin terseret ke dalam, kita akhirnya jadi orang yang gila akan traffict. Seolah kita menuhankan traffict, kita berusaha keras agar jumlah pengunjung kita banyak, dengan banyak cara. Lengkap dan semakin perkasa saja lingkaran setan yang menguasai dari kita. Kita telah masuk dalam cengkeramannya.

Kita telah terlupa dari keinginan awal untuk berbagi ilmu pengetahuan, berbagi wawasan. Akhirnya justru kita menjadi budak traffict. Tapi ada sedikit hal lain yang kadang saya pikirkan, tentang mereka yang terdampar ke blog kita melalui jalur penghubung search engine. Saya rasa mereka adalah orang-orang yang baik dan normal, mengunjungi, blog bukan karena ingin dikunjungi balik. Karena ingin memperoleh pengetahuan beru, bukan karena traffict. Dan disinilah sebenarnya kita harus bersikap senang andaikan kita selalu teringan cita-cita awal tersebut, bukan saat blog kita dibanjiri komentar dari orang-orang yang sebenarnya juga haus komentar juga.

Disinilah kita dapat  membagi ilmu kita dengan tepat, sebagaimana mestinya. Dan disinilah gunanya kita. Sebenarnya disanalah kita mendapatkan cita-cita awal kita itu. Tapi sayang kita sudah terlalu mabuk untuk memperhatikannya. Kita anggap mereka yang tidak nampak itu bukan orang penting. Kita jauh lebih menyenangi orang-orang yang memberikan sapaannya dan meninggalkan jejaknya pada blog kit ameski itu tak lebih dari sekedar timbunan kata-kata sampah dan candaan yang kadang tak berguna.

Kadang saya merasa ini adalah upaya bangsa barat yang katanya lebih maju untuk menjadikan kita sibuk dan tidak begitu memperhatikan permasalahan yang ada di depan hidung kita sendiri yang sebenarnya lebih layak untuk segera kita tuntaskan. Manjadikan kita kita orang yang lebih sibuk dengan aktifitas ini yang membuat kita begitu silau terhadap diri kita. Kita merasa seolah kita itu orang yang banyak berpikir, banyak menetaskan ide-ide. Meski itu sebenarnya hanya ide untuk mencari kunjungan yang lebih. Dengan kini kita lalai dari memperhatikan diri kita sendiri, karena kita sudah merasa menjadi pemikir besar yang hebat, sehingga masalah pribadi kita adalah masalah yang sepele dan akan dapat dengan mudah kita selesaikan.

Tak terasa mereka -bangsa barat- telah sukses menyibukkan kita dengan aktifitas ini, sehingga kita lemah dalam mengatur diri kita sendiri. Kita akan dengan mudah dikuasai dengan keadaan kita yang seperti ini di masa mendatang. Semua merasa pemikir, hingga tak ada yang mau menghormati pemikiran orang lain. Karena mereka ‘tahu’ mereka adalah hebat.  Negeri yang banyak ‘pemikir’ yang salaing adau pendapat itulah gamabranya. Sangat mudah untuk dirobohkan jika kita diserang secara tiba-tiba.  Ternyata ada konspirasi yang sebegitu besarnya di balik ini semua.

Tulisan ini hanyalah hasil pemikiran sepihak dari saya, tanpa riset dan tanpa studi mendalam. Bisa benar atau juga salah. Maaf jika saya menggunakan kata ‘kita’ mungkin anda tidak terima untuk ini. 

Firefox Banner

Nggak bermaksug untuk menyaingi kepopuleran mas Antogirang, cuman mau berbagi hasil belajar dikit nih. Hari ini daripada iseng kirim sampah dimana-mana aku mau mencoba dagang aja ah, dari pada dikutuk sama orang-orang yang rumahnya kotor berlumuran spam, mending nyepam di tempat sendiri. 😆 Saya mau menawarkan beberapa banner yang baru saja saya buat, nggak bagus-bagus amat sih. Langsung saja nggak usak banyak bicara lagi, langsung buka dhasar, siapkan tokonya dan mulai beraksi. “Bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mas kakakkakak, adek-adek dan semua saja yang ngakunya gila sama Firefox. Ini saya datang menghadirkan berbagai macam baner yang dapat anda pasang di blog anda” * Wah pantes banget ya jadi penjual di terminal 🙂 *

 

Langsung ke komoditasnya ya nih ada tiga rasa yang saya tawarkan. Ada tiga rasa yang akan anda dapatkan jika anda mau mencobanya nih.

 

  • Rasa pertama adalah rasa jeruk, segar, bervitamin dan sedap untuk dipandang mata. Dijamin anda semua yang ngakunya gila Firefox bakal seneng deh. Nih Bannernya, cling !!

    firefox banner

  • Rasa yang kedua nih rasa anggur. Meski katanya bang Megy Z anggur merah itu memabukkan, tapi saya jamin yang ini nggak bakal membuat anda mabuk deh. Bahkan anda akan menjadi seger dan sehat serta bersemangat ngeblog jika pada blog anda terpasang banner berikut, cling lagi !!

    firefox banner

  • Yang terakhir nih rasa biru *emang ada ya rasa biru, terserah saya lah, ini kan blog saya 🙂 * yang satu ini juga nggak kalah keren meski agak sedikit jelek 😛 *penjualnya jujur euy*, langsung kasih lihat aja deh, masih cling lagi uey !!

    firefox banner

Sekian dan terima kasih. Nyampah telah usai, tapi kalau benar-benar pingin masang bannernya juga boleh, kalau pingin tau alamat imagenya bisa dengan tekan Ctrl + U *trus cari sak ketemune 🙂 * atau klik kanan imagenya, copy image location * yang sudah paham diem ya, jangan berisik lagi sok pinter nih 🙂 * abis itu pasang dimana saja anda suka. Asal jangan di tempat-tempat mesum angker saja ya.

 

Pergi dulu ah, sampahnya sudah banayk nih * mematikan mode nyampah, klik *

Peringatan Pemilik Blog

Semua efek dan dampak tidak baik semacam ketagihan atau apapun yang disebabkan dai baner ini tidak ditanggung oleh yang membuat, jika ketagihan berlanjut disarankan untuk buat sendiri yang lebih bagus, dan saya juga dikasih tahu !!

Terlena, Kita Diboongi

Sudah lelah rasanya untuk membahas yang satu ini kita udah teriak-teriak dari dulu kok tetap sama saja. Nggak ada perubahan. Dasar pemerintah yang kolot !! Apakah mereka pikir nggak ada cara lain untuk mencetak pemimpin negeri ini selain dengan menggunakan lembaga itu ? Udah jelas, berkali-kali mereka melakukan pembunuhan dan penyiksaan kok tetap saja dibiarin berdiri 😦 .

 

Ujungnya jangan salahkan mereka jika tidak saja orang dalam yang menjadi korban. Para praja yang gila kedudukan dan telah terlena dalam mimpinya yang dalam tentang bayang-bayang masa depannya itu kini jadi semakin buas dan kejam.

 

Selama ini kita berhenti ngomongin mereka, mereka juga tampak kalem, tapi semua hanya dusta. Hal itu terjadi lagi Kita diboongi, ato kita aja yang terlalu bodoh samp[ai bisa diboongi berulang kali ?

 

Nggak perlu nunggu lama, siapkan mobilisasi massa untuk merobohkan tembok keangkuhannya.

Negara < Perut

Sebelumnya maaf bila bahasanya ketinggian. Tapi menurut saya memang hal itu bukanlah sesuatu yang amat-amat salah. Ada benarnya bahkan. Fakta menunjukkan kalau akhir-akhir ini saya jadi agak resah dan bingung sendiri bagaimana penyakit macam gini, penyakit yang seharusnya hanya banyak diidap oleh orang-orang perkotaan ang pastinya lebih mengalami persaingan hebat dalam mencari makan bisa dengan begitu cepatnya menjalar ke pedesaan seperti kampung halaman saya. Yang jarakna dari kota kabupaten saja lebih dari 20 km.

Penyakit apakah itu ? Seperti yang sering kita lihat, penyakit ini adalah penyakit mementingkan perut sendiri tanpa mau berpikir lebih jauh tetang nasibnya sendiri di masa mendatang. Nasib perutnya juga termasuk dalam masa depan ini  tentunya. Betapa mereka dengan tanpa mau berpikir jernih melakukan kesalahan yang kelihatannya sepele tapi ternyata amat sangalah besar dan berbahaya ini. Mereka seolah sayang terhadap diri mereka dengan memberinya hal yang lebih baik padahal tidak, sama sekali tidak justru sebaliknya.

Hah, posting kok nggak jelas, mau ngomong apa sih buruan ! Ok, sebenarnya kasusnya sepele banget, aku cuman heran dengan kebiasaan masyarakat sekitarku. Kok mereka saat ini begitu merasa nggak biasa ya kalau ada pemilihan kades tanpa ada uang yang beredar secara gelap-gelapan. Atau mungkin sekarang sudah jadi terang-terangan ? Tapi yang jelas patokan mereka dalam memilih seringkali liat yang mana yang kasih uangnya yang lebih gede.

Bahkan dari sekian banyak kabar adanya acara pemilihan kepala desa, di seantero kabupaten ini, semua sepertinya memakai cara yang sama dalam mencari pendukung. Duh, makin prihatin saja. Bahkan lagi nih, ada yang pernah cerita tentang pemilihan di daerahnya bahwa kader suatu calon dapat dengan mudah berpindah dukungan dengan hanya di timpuk beberapa ratus ribu rupiah saja. Dukungan gombal ! Kalau sudah begini terus gimana donk ? Nampaknya kabupatenku yang ceritanya memiliki bupati terkaya nomor wahid di negeri ini bakalan ambruk nih, bayangin aja untuk jadi kades saja habis setengah milyard, trus apa yang akan dikorupsi untuk mengembalikan modalnya ya ?

Anehnya lagi masyarakat  yang diberi uang itu juga nggak mikir, mau aja milih orang yang kasih uang. kalau uangnya sih ga pa-pa, orang diberi kok. Apakah masih perlu ada beban mental dalam permainan kotor semacam ini ?

Eh, ngomong-ngomong apa nggak ada tim pengawas juga sih ?

Filosofi Avatar Saya

Hehehe setelah beberapa hari nggak blogwalkging apalagi kasih komen dan posting sekarang mencoba kembali lagi dengan gaya yang sok jadi seorang filsuf, sok bicara filosofi. Yap ngomongin avatar baru yang saya buat kemaren waktu terakhir Online. Sudah berkali-kali saya gonta-ganti avatar tapi saya baru merasa agak ngeh dan bermakna pada avatar saya yang terakhir ini. Keliatan keren juga khan. Ada yang belum liat ? Nih aku kasih liat.

Yap langsung saja nggak usah ngomong panjang lebar lagi, ada beberapa makna yang terdapat dalam avatar saya yang terbaru itu. Langsung saya bahas mulai dari obyek yang paling besar.

  • Sebuah apa ya itu ? Sirip dah, yang berdiri tegak.

Maksud dari sirip itu adalah kita sebagai manusia harus berpikir untuk selalu berada pada keadaan yang lebih tinggi, bersaha sebisa mungkin untuk dapat menjadi orang yang selalu mengadakan improvisasi dalam diri kita. Jangan sampai kita hanya menjadi orang yang stagnan dan nggak punya visi dan misi. POKOKE kita harus melihat jauh ke depan deh.

  • Sirip yang kecil.

Makna yang ada di dalamnya adalah bahwa sebagus apapun keadaan kita saat ini. Kita itu sebenarnya belum dan bahkan tidak akan pernah menjadi orang yang paling besar dan sempurna. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita masih harus selalu belajar dan berusaha, meski keadaan kita sudah seperti apa pun yang membuat kita sendiri silau dan tak percaya terhadap apa yang telah kita raih.

Lebih dalam lagi bisa pula itu bermakna ” Di atas langit masih ada langit ” so jangan pernah merasa kita itu lebih baik dari siapa saja. Apa yang kita raih bukan suatu hal yang mustahil untuk diraih oleh orang lain pula, dan itu belum tentu sesuatu yang maksimal dalam hidup ini. Masih banyak orang yang dapat berlaku lebih dari apa yang telah kita lakukan. Kita bukan apa-apa. Dan makna ketiga dari simbol itu bahwa kita itu sebenarnya kecil. Dalam konteks bahwa kita itu makhluk yang meyakini adanya Tuhan kita bukan apa-apa, kita harus bersyukur atas apa yang kita dapatkan, apa yang telah Ia beri. Kita bukanlah apa-apa di hadapan-Nya. Untuk makna yang ini saya rasa gambar itu lebih layak untuk jadi lebih kecil lagi, hampir tak terlihat mungkin yang pantas.

  • Ada lagi semacam cahaya yang keluar dari kedua sirip tersebut.

Bermakna bahwa diri kita itu kadang diselimuti berbagai riak rasa dan asa. Ada semangat yang membuat kita kadang menjadi orang yang aktif dan bersemangat untuk melakukan berbagai aktifitas kita. Ada pula kesedihan dan patah hati yang membuat kita seakan mandeg dari apa yang kita lakukan, berhenti dari apa yang menjadi tanggung jawab kita. Bisa pula menggambarkan banyaknya campur tangan orang-orang luar disekitar kita yang kadang menimbulkan berbagai keadaan yang tak menentu dalam hati kita. Yang mempengaruhi pencapaian kita dalam meraih ‘hal lebih’ itu.

  • Background biru tua.

Ada orang bilang kalau warna biru itu menggambarkan jiwa orang yang tenang, kalem pendiam dll. Adapun maknanya di sini adalah semua itu, semangat dan perjuangan kita untuk meraih ‘hal lebih’ itu ada baiknya kita kontrol sedemikian rupa. Jangan sampai semangat yang ada justru membawa kita kepada jurang kehancuran dikarenakan keadaan diri yang di luar kontrol. Semua ada masanya. Kita harus bersikap waspada dan hati-hati. But keep on the spirit !! 😆

MODE NARSIS : ON

Berhenti Disini

Akhirnya semua harus berhenti disini, tak dapat berlanjut kembali. Meski berat untuk merasakannya, tapi itulah realitanya. Tak dapat lagi bertahan lebih lama untuk tetap exist dan melanjutkan asa yang kian menggelora. Tak dapat lagi , tak dapat lagi, tak daapat ……….. Baca lebih lanjut

Razia Itu

Teringat saat kemaren pagi, sebenarnya beberapa pagi yang lalu, sebelum mendengar berita kematian Presiden BBM, Taufik Savalas. Aku melihat suatu berita yang agak membuat hati ini bertanya pada tayangan stasiun TV yang sama. *Lho kok masih liat TV katanya dilarang ? Sorry ralat, yang kemaren itu khususnya Sinetron * Adasebuah berita yang agak membuat aku sempet gregetan, tentang operasi razia para gepeng di kota Cirebon.

Dalam tayangan itu terlihat betapa seorang pengemis yang sudah tua dan seorang lagi *mungkin anaknya* yang membawa seorang anak kecil meronta-ronta nggak mau di bawa naik ke truk. Melihat tangis dan raut mukanya aku jadi ngeri sendiri, kemudian berpikir andai aku jadi mereka apa aku juga akan begitu. Apa ya yang ada dalam pikiranku andai kondisiku juga seperti itu ? Pokoknya aku menjadi merasa juga kalau mungkin mereka nggak punya pilihan selain apa yang sedang mereka lakukan. Pastinya mereka berpikir akan hidup dengan cara apa lagi andai mengemis sudah dilarang, mau kerja apa mereka mungkin nggak bisa.

Ada lagi seorang bocah yang ibunya sakit dan nggak bisa bekerja, ayah pun juga nggak kerja. Mengaku sudah tertangkap razia tiga kali. Waks, tiga kali, kok nggak kapok juga emangnya setelah ketangkep itu mereka diapain apa mereka cuma di daftar layaknya sensus pengemis ? Ternyata memang demikian, mereka hanya didaftar kemudian di beri pengarahan dan diberi ceramah dan kotbah lain selama seminggu. habis itu mereka bebas lagi.

 Pantes ada yang sampai tiga kali, oarng tindak lanjutnya saja hanya formalitas kayak gitu ya. Coba kalau mereka diberi sedikit keterampilan yang bisa berguna bagi mereka untuk mencari nafkah mungkin ceritanya akan lain. Apakah mereka akan lebih merasa berat untuk mengamen, mengemis dan sebagainya daripada menjaga harga diri mereka dengan bekerja yang lebih layak jika mereka bisa ? Harusnya mereka lebih memilih kerja yang layak khan ? Meskipun memang mungkin ada saja orang yang super males dan lebih memilih untuk tetap menghinakan dirinya tapi dengan begitu minimal khan jumlah mereka akan berkurang

So, saya rasa kita layak untuk mencermati keberadaan Satpol PP yang dengan kreatifnya mengadakan razia pada warga-warga pinggiran sungai, gelandangan dan pengemis itu ? Dengan arogannya gagah beraninya mereka menggusur semua bangunan tidak layaknya semua orang miskin yang telah tinggal ditempat itu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dan sudah merasa ikut memiliki kota tersebut ? Saya sempat berpendapat mereka sebenarnya kurang kerjaan saja. Sehingga saat melakukan razia itu tidak mereka tuntaskan. Tangkap, catat, kasih ceramah, bebas. Sehingga orang-orang yang menggelandang tidak akan pernah habisnya.

Dengan demikian mereka khan terlihat selalu bekerja meskipun apa yang mereka lakukan itu sebenarnya tidak lebih dari mengulang-ulang hal yang sama. Senjata ampuh khan untuk sedikit membungkam mulut bangsa ini yang sudah mulai kritis terhadap kinerja berbagai lembaga pemerintahan. So, keliatannya kita yang sebenarnya juragan mereka, orang-orang yang ikut menggaji mereka, harus lebih jeli lagi. Jangan sampai kecolongan dengan apa yang dikerjakan kuli-kuli kita yang cuma apus-apus saja. Tuntut mereka untuk berbuat lebih ! Setuju.