Bangun Motivasi, Melakangkah Pasti

Memang sangat benar Firmna Allah Azza wa Jalla, ‘Aku adalah seperti apa yang disangkakan umatku’ sangat benar tentunya. Karena DIA adalah pembuat kita insiyur yang paham setiap detil dari apa yang didesain-Nya. Manusia memang begitu adanya, semua bergantung dari apa yang ada di dalam pikirannya.

Satu contoh, saat melamar pekerjaan, dari awal dia mungkin sudah takut, tidak yakin dengan kemampuannya untuk bisa diterima. Sehingga pada saat test pun semuanya itu mempengaruhi dirinya sehingga kekurangan konsentrasi. Dan pada akhirnya memang dia tidak diterima.

Atau kalau contoh diatas terasa sangat mengada-ada, saya mau ceritakan saja pengalaman pribadi saya. Dulu saat saya mau mendaftar kuliah program beasiswa milik jardiknas, belum apa-apa saya sudah hampir mundur. Saya sudah down awalnya, batin saya berkata ‘mungkin memang, kuliah bukanlah jalan hidup saya’ lantaran saat pendaftran saja saya sudah kehabisan uang saku. Padahal masih harus ke warnet mengadakan pendaftaran online dan mencetaknya, baru kemudian dikumpulkan ke panitia pendaftaran.

Dengan uang yang tinggal 2 ribu (kalau nggak salah) saya pun nekad ke warnet, dalam sejarah saya mungkin itu adalah kali kedua saya masuk warnet. Sesampainya disana, saat mau log-in ternyata yang ditanyakan adalah NIM saya bukan nomor pendaftaran, saya sudah resah, karena lupa untuk mencatatnya. Mau gimana lagi, saya harus keluar untuk melihatnya lagi dan menghafal 7 karakter NIM saya, dengan tetap harus membayar seribu saya dan meninggalkan satu lainnya, meski baru beberapa menit masuk. 

Saat menyeberang jalan ingin mengecek ke gedung rektorat UNS itulah perkataan tersebut terlintas di benak saya, baru saat itu saya merasa benar-benar lemah dan tidak bisa mengharap pertolongan selain dari-Nya. Entah apa yuang mendorong saya untuk tetap melaju, akhirnya saya sampai lagi di gedung rektorat, sesampainya disana, saya ditanya mana print outnya? Saya hanya menggeleng sambil berkata tidak bisa pak. Dan karena kepasrahan saya, saat itu beliau (sampai saat ini tidak tahu orangnya, makasih banget deh pak, moga dibalas Allah) langsung bilang masak, coba di cek, saya pun diajak masuk dalam gedung rektorat, langsung masuk mengisi form penndaftaran disana, dengan bantuan bapak tersebut bahkan, tanpa menyentuh komputer sama sekali, print out sudah jadi 🙂

Saat itulah saya benar-benar bisa merasakan betapa pasrah bisa mendekatkan kita dengan-Nya. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata aktifitas mejadi mahasiswa membuat saya terlalu capek untuk istiqomah dalam selalu mengingatnya. Terjebak dalam ikhtilat dan berbagai hal melanggar syariat lainnya pada akhirnya.

Di akhir semester, selain CCNA yang telah saya kesampingkan, nilai saya baik, memuaskan bahkan bagi saya jiuka dibanding teman-teman yang lain. Tapi mau apa dikata, CCNA itulah kuncinya ternyata, saya sempat heran juga bagaimana pendidikan negeri ini ke depan kalau mata kuliah yang bisa dikerjakan dengan ongkang-ongkang di warnet, sambil makan gorengan, buka catatan seperti itu yang sama sekali tidak saya kerjakan dengan sepnuh hati malah dijadikan parameter utama kelulusan? 

Tapi saat itulah saya tersadar akan betapa menjauhnya saya dari-Nya, dan ingat kembali ‘mungkin memang, kuliah bukanlah jalan hidup saya’  dan saya memutuskan untuk tidak menyampaikan unek-unek tersebut kepada bapak Muh Kasmadi. Dari awal saya sudah tidak merasa perlu, untuk memperjuangkan posisi saya dalam program beasiswa tersebut, sehingga diam saja adalah pilihan saya. Coba kalau diawal saya berpikir, ‘hey boy, this all is not a matter, keep fighting’ mungkin semua halangan justru membuat saya semangat untuk terus melangkah. Untuk ngotot memperjuangkan nasib saya dalam program tersebut, mungkin saja akhirnya berbeda. Tapi saya baru menyadarinya beberapa saat kemudian, terlalu terlambat.

Bisa dilihat bukan kalau semangat dan motivasi diri kita ditentukan oleh prasangka, dan pemikiran diri kita akan kita sendiri. So selalu berpikir kalau kita pasti sukses, kita pasti berhasil, dan kita pasti bisa! Agar kita bisa mnelejit maju dan selalu bersemangat meski kita dihadang bebagai cobaan. SEMANGAT PAGI! 

Thanks to kang Puji

Ngeblog Untuk Semua

Menanggapi komentar teman lama yang meminta tolong tentang bagaimana caranya agar semua orang bisa buat komentar di blog kita tanpa harus punya account wordpress dan sign in (menurut istilah saya disini biar ‘ngeblog untuk semua’ 😀 ) Saya akan menjelaskan di sini dengan gambar penuh, biar semuanya jelas. Tapi sebelumnya saya minta maaf, karena waktu pas chat lewat hp saya tidak sengaja mencel tombol End, dan mau nyoba lagi males (soale dah nyoba sekali tapi gagal).

Langsung saja, pertama masuk dashboard blog kita seperti gambar berikut, url jika masuk dashbord biasanya seperti yang tertampil itu (saya kotaki hijau)

Dashboard wordpress

Kedua, masuk dalam setting diskusi/perkomentaran, ada dibawah menu setting.

discussion page

Ketiga hilangkan centang pada setting user must be registered an sign in to make a comment, itu untuk blog saya, karena settingan dashboard-nya  emang bahasa inggris. Untuk yang bahasa indonesia tentunya beda, tapi posisinya ya tetep saja disitu.

User Must Be registered to Comment

Dah sekian, saya rasa cukup jelas. Sengaja dibuat berlebihan, pake gambar segala karena sedang tidak ada ide posting yang sangat menarik, jadi biar posting ini jadi pengisi kekosongan saja 😀

Semangat di Awal Nol Belakangan

Sesuatu yang baru, seperti tahun ini, selalu tampak menyenangkan, menarik perhatian dan mengundang hasrat untuk tahu dan mengenal lebih dalam lagi. Perlakuan terhadap hal baru pun seringkali berbeda dengan hal-hal yang telah ada sebelumnya. Tidak terkecuali semangat dalam melakukan hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut.

Itu pula yang saya rasakan di tahun ini, muncul semngat baru untuk mengawali tiap-tiap harinya. Tapi kalau review kembali akhir tahun lalu, terasa berbeda jauh, melaju mengarungi hidup ala kadarnya, mengikuti arus semata. Semangat yang getol di awal tapi sirna di belakang ini nampaknya tidak hanya saya sadari semata, terbukti dengan diadakannya training motivasi diri yang dilaksanakan oleh instansi tempat saya bekerja akhir tahun lalu.

Memang training seperti ini perlu sekali dalam hidup, agar semangat hidup di-refresh kembali. Setelahnya, saya jadi pengen berkaca lebih dalam tentang berbagai hal yang telah saya lakukan dengan penuh semangat dan gelora menggebu, tapi akhirnya lembek tanpa bekas. Saya coba review kembali plan n action saya dalam kurun waktu beberapa tahun ini.

Mulai dari ngoblog di blog ini, awalnya saja dengan antusias, bulan-bulan pertama menghasilkan minimal 10 posting, sekarang seadanya. Blog contest juga demikian, Kerja Keras Adalah Energi Kita yang tadinya saya rencanakan untuk saya ikuti dengan ketiga blog saya yang lolos persyaratan (ini, kamtizone.com, satu lagi blogspot yang dah lama ga saya urus) dengan model posting saling nge-link nyatanya cuman ada satu posting yang saya submit.

Tahun lalu, awalnya saya semangat akhir netral, buat theme juga demikian, desain awal masih pengen explorasi terus, sebelum beranjak ke baris script dah mandeg total.

Hahhh….. hidup….

Jadikan saja semua ini refleksi diri, jadikan esok selalu semangat! Pantang pulang seblum padam   Kobarkan semangat juang!