Emmm….. ?

Huaaaahhh….

nggak tau mau nulis apa, tapi pingin banget. Apa ya bantu donk 😦

Iklan

BenQ C30

Kembali mengorbit, bisa dibilang begitulah saya. Setelah diakhir tahun kemarin libur ngeblog (meski nggak libur sepenuhnya dari menyentuh internet) kini saya kembali lagi, meski tetap dengan koneksi siper lambat 😦 . Menoleh lagi ke judul, adakah pertanyaan dalam kepala anda ? Jarang sekali saya membahas gadget, kenapa sekarang saya memulai membahas hal seperti ini ? Apakah saya sudah mulai keluar jalur atau OOT ?

Jawabannya adalah tidak sama sekali tidak saya masih berada di jalur yang benar. Meski tak ada jalur manakah yang sebenarnya benar bagi blog ini karena memang isinya tak terikat dengan aturan apapun, isi blog ini bebas. Sebenarnya saya hanya melakukan kebiasaan lama saya. Yup, masih seperti biasa, menulis dari apa yang saya pikirkan, rasakan dan alami serta pelajari. Oke deh, tak perlu lagi prakata ini saya perpanjang lagi, sudah sekian saja.

Ke judul, itu adalah pengalaman saya dalam dua minggu terakhir, menggunakan ponsel anyar keluaran BenQ. BenQ C30, itulah handset yang alhamdulillah telah bisa saya miliki sebagai ponsel pertama yang tertulis dalam sejarah hari-hari saya. (Jadi malu sendiri, mungkin dalam hati anda berkata ‘Hari gini baru beli hp, dari mana aja, jaman batu ya ?’ 🙂 ), tapi itulah nyatanya, selama ini walau uang sudah di tangan saya merasa kurang begitu tertarik untuk segera membeli sebuah perangkat genggam yang bernama hp. Meski saya sering sekali mengintip-ngintip untuk mencari tahu berbagai tipe dan model yang mungkin cocok.

BenQ C30

Langsung saja, *dari tadi langsung terus tapi nggak jalan-jalan ya* 😀 sekarang kita membahas perangkat tersebut, apa kesaktiannya sehingga saya tertarik padanya, dan apa pula keburukan dibalik kecantikkannya tersebut.

Kecantikan

  • Desain yang simple.
    Memang meski tergolong ponsel untuk kalangan menengah ke bawah, tapi untuk desainnya bisa dibilang baik. Tidak macem-macem, candybar biasa, tapi dengan ukuran yang sesuai dengan tangan kita 108 x 47.3 x 14.4 mm. Lumayan tipis, dan cukup nyaman di tangan dan ini adalah hal yang paling menarik saya. Selain ukurannya, layarnya juga tajam 262k meski hanya dengan resolusi 128x160px, tapi masih cukup jelas saat tertimpa sinar matahari secara langsung saat berada dengan setting kecerahan layar maksimal.
  • Penuh fitur
    Jangan dikira ponsel yang kelas menengah itu kurang memiliki kemampuan untuk bersaing dengan mereka yang tergolong ‘lebih tinggi’. Cukup lengkap apa yang ditawarkan perangkat kecil ini, dan semuanya bukanlah hal murahan. Dalam perangkat ini sudah ada berbagai fasilitas hiburan dan komunikasi. Pemutar musik, Radio FM, Kamera (meski VGA tapi sudah agak menghibur) bersarang di dalamnya untuk menyokong kemampuan multimedia ponsel ini. Hal yang menarik dari ponsel ini adalah dari ketiga fitur multimedia utama di atas, semua telah ada tombol shortcut pada bagian atasnya untuk mengakses ketiga menu tersebut.
  • Storage dan Konektifitas
    Berbagai fitur multimedia telah disertakan tentunya hal tersebut akan menuntut tersedianya kapasitas penyimpanan yang besar. Dan BenQ nampaknya melihat hal ini, sehingga tak heran jika akhirnya ponsel ini dibekali dengan slot microSD yang bisa kita isi data hingga 1 GB. Sangat luas untuk sekedar menyimpan lagu-lagu kesukaan dan gambar, hal ini pulalah yang menyebabkannya unggul saat saya menimbangnya dengan SE K510i yang hanya memiliki ruang simpan paten 28 MB. Meski jika dilihat dari konektifitas BenQ C30 tertinggal jauh dengan tidak memberikan jalan komunikasi kepada perangkat lain selain kabel data sedang K510i memiliki infrared dan bluetooth. Namun masih ada hal lain yang cukup mengagetkan saya GPRS kelas 12 itulah yang diusung ponsel ini, lebih tinggi dari kebanyakan ponsel GPRS yang rata-rata berada pada kelas 10.
  • Dual speaker, So Loud !!
    Satu yang juga unik, dengan dual speaker yang ada di balik wajah kalemnya, suara yang keluar dari sana terdengar sangat kencang. Bahkan jauh lebih kencang dari kakaknya BenQ-Siemens C31. Jika dibandingkan dengan salah satu ponsel XpressMusic Nokia (Nokia 5300) speakernya juga tidak kalah kenceng. Walau tanpa efek 3D Sorround yang hingga kini saya kurang bisa merasakan perbedaannya 😀 Disamping itu masih ada beberapa fitur lain, seperti pembaca E-book (masih bingnung juga format apa yang bisa dibaca [dot]chm nggak mau nih], BMI yang dapat memberi informasi tentang berat badan kita, yang ini khusus perempuan kalender menstruasi yang anda tinggal memasukkan tanggal terakhir anda mengalaminya dan lama rata-rata anda mengalaminya, maka secara langsung akan diciptakan prediksinya dalam masa yang akan datang.

Kekurangan

Tiada gading yang tak retak, begitu juga ponsel ini. Meski memiliki bejibun keunikan diatas, dia juga memiliki kelemahan sebagai berikut :

  • Kamera dan Konektifitas
    Seperti yang telah saya sebutkan diatas, konektifitas dengan perangkat genggam lain memang ada sedikit keburukan. Cuma ada kabel data yang sekaligus menjadi kabel charge untuk di colokkan ke PC. Kameranya juga demikian, cuma VGA, meski hasilya juga tidak terlalu buruk.
  • Tanpa Themes dan modifikasi EQ
    Bosan dengan tampilan yang ada di dalam ponsel ini tak bisa diobati dengan melakukan pergantian melebihi wallpaper dan screensaver saja. Dan satu lagi meski didukung dangan kemampuan mamainkan musik secara handal, ponsel ini juga tak mengijinkan kita untuk memberikan perubahan paa preset Equalizernya.

Yup itulah semua yang ada dalam perangkat genggam yang sekarang sedang aku pakai. Semoga saja ini bukan pamer, tapi sekedar info bagi yang membutuhkan.

Wajib dibaca juga : Lebih Baik Nggak Beli BenQ /Siemens