Esensi Menulis di Blog

Sudah sekian lama saya menulis di blog saya dengan irama yang sama sekali tidak teratur. Sebulan seringkali cuman menulis sekali, dua kali atau bahkan malah sama sekali tak ada satu tulisan pun yang saya torehkan di semua blog saya. Saya merasa sebenarnya saya tidak patut lagi disebut seorang blogger dalam beberapa bulan terakhir.  Semua mendapat perlakuan yang sama buruknya. Mulai dari blog pertama saya ini yang sedang anda baca, blog kedua saya yang bahan saya lupa pernah mengelolanya sebelum saya membacanya kembali pagi ini. Dan juga blog saya yang paling mahal, karena yang ini tidak gratisan.

Dan baru saya sadari bahwa dengan meninggalkan aktivitas menulis di blog itu pula yang menjadikan saya kurang bisa myemangati diri sendiri. Karena pikiran jadi kurang bisa berusaha untuk selalu mencari-cari ide untuk sekedar membuat satu tulisan. Yang sebenarnya prosesnya tidak hanya sampai di situ saja. Dengan berusaha seperti itu, ternyata otak dan jiwa kita jadi terasa selalu segar, karena tiap hari kita akan menemukan banyak ide-ide baru. Kita seolah me-refresh diri sendiri sepanjang waktu. Sehingga jiwa kita terasa segar.

Sangat berbeda dengan apa yang saya alami beberapa saat ini. Semangat, intelektualitas, dan kekritisan kita untuk berpikir tentang lingkungan di sekitar kita mati dengan begitu saja saat saya berhenti menulis dengan teratur, dengan pola yang baik yang bisa membangun diri kita sendiri dari dalam.  Pada kondisi seperti itu, kita akan cenderung berada pada satu posisi dimana kita terseret masuk dalam rutinitas keseharian. Tak ada semangat untuk belajar dan bermimpi karena banyaknya waktu dan pikiran kita yang telah terkuras ke hal-hal keseharian kita [pekerjaan] yang melelahkan.

Saya juga baru saja menemukan, mengapa para penulis blog lain seperti presty misalnya *cuman bisa nulis kamu pres, yang lainnya dah jarang aku kunjungi* bisa mendapat juara dalam lomba blogging yang diadakan starone. Padahal dia sendiri mengaku kalau dalam mengelola blog dia hanya menuliskan banyak sampah saja, ga lebih. Itu karena pikiran dia paling tidah berada satu tingkat di atas orang yang hanya membaca saja, atau bahkan tidak melakukan apa-apa, baik membaca atau juga menulis blog. Sehingga  apa yang mereka sendiri nilai sebagai sampah dinilai sebagai sesuatu yang baik dan menarik oleh orang lain. Dan itu memang benar adanya.

Pada keadaan seperti itulah, kita masih saja menilai segenap tulisan kita hanya sampah. Dan tentunya selalu ingin agar bisa memperbaiki tulisan kita. Padahal di mata orang lain kita sudah jago menulis, kita hebat dan tulisan kita bukan sampah. Akan tetapi kita tetap saja merasa menjadi penulis yang buruk, dan bukankah ini sebenarnya amat membangun jiwa kita. Kita selalu termotivasi untuk lebih baik, walau kita sebenarnya sudah baik.

Bagi saya tiap minggu bisa menulis paling tidak sekali itu saja sudah  sangat bagus sekali saat ini. Tapi tidak bagi saya di pertengahan tahun 2007 lalu yang menulis hampir tiap dua hari sekali, hal itu bukan apa-apa. Ya, tingkat kepuasan saya terhadap kemampuan saya dalam menulis menurun drastis karena memang motivasi saya dari dalam telah hilang dengan sendirinya. Dan tidak ada yang bisa menolong kita dari keadaan kita yang seperti ini selain diri kita sendiri yang mencoba untuk membandingkan keadaan kejiwaan kita, semangat kita dan pola pikir kita yang juga ikut menurun mengikuti runtuhnya motivasi kita pada diri kita untuk sesuatu yang nampaknya hanya untuk menjaga dan meningkatakan mutu tulisan kita. Namun sebenarnya bukan demikian, tapi juga bagi jiwa sanubari kita.

Menulis di blog, adalah sarana murah bagi kita untuk belajar. Belajar menuangkan semua lintasan pikiran kita dalam coretan pena virtual, yang tidak ada kekhawatiran kita akan adanya cemoohan orang, karena kita menguasai media kita sendiri. Lagian, nasib orang siapa yang tahu. Siapa yang menyangka dengan menulis di blog ini membuat kita sadar dan mebukakan mata kita kalau ternyata kita memiliki bakat untuk menjadi penulis.

Kalau saya perhatikan, bagi para penulis professional  seperti mbak Helvy Tiana Rosa, Mbak Asma Nadia, Andrea Hirata dan masih banyak lagi. Menulis di blog bagi mereka adalah sesuatu yang sangat mudah, cuman menuliskan apa yang mereka temukan dalam keseharian saja. Tentang berbagai diskusi mereka dengan rekan-rekannya. Akan tetapi, ambil contoh saja mbak Helvy, dari tulisan yang ada kaitannya dengan rumah tangga saja sudah bisa beliau susun menjadi sebuah buku. Subhanallah. Bukankah ini seperti proses menulis yang menguntungkan, sambil menyelam minum air, dapet dua-duanya 😛 Jadi pengen jadi penulis :mrgreen:

Tak perlu ragu dengan apa yang kita tulis, karena semua tulisan kita itu membangun, membangun diri kita sendiri, orang yang membacanya dan bangsa ini pada umumnya. Jadi jangan pernah berhenti menulis bung.  Writing never ending ……

Maaf yang Terlambat

Dapet dari Forum

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” ….

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok
Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…..

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…,
Namun…, si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

NB: Cerita ini sangat menginspirasi untuk semua orang tua dan semua yang akan berkeluarga atau bahkan bisa menjadi inspirasi untuk menjadi orang tua yang bijak bahwa semua perlu sebuah kelembutan untuk menghadapi anak kita nanti