Berjudi Saat Ramadhan

Sudah bukan hal yang mengherankan jika saat bulan Ramadhan datang seperti bulan kemarin, banyak diantara kita yang menjadi tambah rajin beribadah. Yang semula sholat bolong – bolong jadi lengkap, yang jarang ngaji jadi rajin baca Qur’an, sampai khatam bahkan. Yang seringkali berat buat ngasih sedekah jadi amat penderma.

Motivasi dari keaktifan ini sudah jelas dan tak usah ditanya lagi. Banyak ulama (mungkin hadist juga, yang saya ga tau/hapal) yang mengabarkan kalau pada bulan Ramadhan ibadah kita pahalanya dilipat gandakan. Semua amal ibadah kita yang tadinya dinilai satu pada bulan tersebut dinilai seribu dan masih banyak lagi kabar – kabar menggembirakan tentang beribadah di bulan Ramadhan ini.

Tapi stop, mari kita tengok sebantar, apakah keimanan kita setelah Ramadhan juga masih sebegitu menggebu? Kalau ya, unruk sekarang mungkin logis, masih dekat sama bulan Ramadhan. Tapi coba kita berusaha jujur, biasanya kita katakanlah sebulan dua bulan lagi, pada tahun – tahun sebelumnya apakah masih menggebu begitu? Tidak. Sebagian besar mungkin akan menjawabnya begitu.

Nah, berkenaan dengan perilaku kita yang beribadah dengan menggunakan prinsip “aji mumpung” ini tadi, tadi saya berbincang dengan rekan yang mengatakan kalau kebanyakan orang ‘gambling’ seolah mau untung pahala sebanyak – banyaknya saat Ramadhan. Seolah mau mencurangi Allah dengan pola ibadah begitu.

Dia sendiri menyebut apa yang dia lakukan pada bulan Ramadhan kemarin dengan ‘mbahe/kakeknya gambling’. Bagaimana tidak, seolah tahu kalau.malam lailatul qodar pada malam ke 23, dia hanya beribadah tekun pada malam tersebut.

Secara garis besar saya setuju dengan pendapatnya. Dimana dia juga berpendapat secara tidak langsung bahwa beeibadah seperti pada bulan – bulan biasa saja pada bulan Ramadhan namun senantiasa konsisten sepanjang tahun adalah lebih bagus daripada ‘gambling’ tersebut. Bagaimana pendapat Anda?

Mimpi Basah Saat Puasa, Batalkah?

Judul yang aneh? Mungkin. Tapi itulah, pagi-pagi di hari yang pertama setelah tertidur ba’da subuh sudah dibikin ragu setan karena kebodohan diri ini yang tidak tahu atau lupa hukum tentang kejadian tersebut. Jadi tidak tenang awalnya, mau lanjut, atau berbuka saja ya? Tapi ya tetep khusnudzhon kalau tidak batal, dan tetap lanjut akhirnya.

Dan setelah googling sebentar saya menemukan ini, dari blog yang tidak begitu saya kenal, tapi isinya bagus-bagus juga nih kelihatannya, langsung saya kutib saja dah pembahasan mengenai hal tersebut.

Jika Orang Yang Shaum Mimpi Basah Di Siang Hari Ramadhan, Apakah Sahumnya Batal ?
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz – diambil dari almanhaj.or.id
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Jika orang yang shaum mimpi basah di siang hari Ramadhan, apakah membatalkan shaumnya ataukah tidak ? Haruskah dia bersegera untuk mandi ?
Jawaban
Mimpi basah tidak membatalkan shaum, karena hal itu terjadi tanpa unsur kesengajaan dari orang yang shaum tersebut. Dan dia wajib mandi janabah ketika melihat keluarnya air mani.
Jika seseorang mimpi basah setelah shalat shubuh lalu dia mengakhirkan mandinya hingga menjelang dhuhur maka tidak apa-apa. Demikian pula jika seseorang menggauli istrinya di waktu malam dan dia belum mandi hingga terbitnya fajar, hal itu tidak mengapa, karena disebutkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika subuh Nabi masih dalam keadaan junub karena jima (di malam hari), kemudian beliau mandi dan shaum.
Demikian pula halnya dengan orang yang haidh dan nifas, seandainya keduanya telah suci di malam hari lalu baru mandi setelah terbit fajar, hal itu tidak mengapa, shaumnya tetap sah. Akan tetapi tidak boleh bagi keduanya maupun bagi yang junub untuk mengakhirkan (maksudnya disengajakan untuk menunda-nunda –pen.) mandi atau shalatnya hingga terbit matahari. Wajib bagi mereka untuk bersegera mandi sebelum terbit matahari untuk menunaikan shalat tepat pada waktunya.
Bagi seorang laki-laki hendaknya bersegera untuk mandi janabah sebelum shalat subuh sehingga memungkinkan baginya untuk menghadiri shalat jama’ah. Wallahu waliyut Taufiq
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah Terbitan At-Tibyan – Solo]

Dilihat dari penerjemahnya, yang merupakan redaktur utama majalah Ar-Risalah, tidak perlu ragu menurut pendapat saya, bahwa mimpi basah di siang hari bagi orang yang berpuasa tidaklah membatalkan puasanya.

Dari pagi saya pikir-pikir sendiri juga begitu, semua itu khan terjadi tidak dengan maksud yang saya sengaja, mestinya tidak batal.

Wilayah Abu-Abu

Wilayah abu-abu, begitulah orang sering kali menyebutnya. Saat kita tidak jelas berada dimana saat ada dua pilihan atau lebih yang mana kita harus menentukan salah satu sebagai pilihan. Disebut-sebut sebagai abu-abau karena saat kita berada pada kondisi seperti ini memang tidak jelas dimana keberpihakan kita. Kalau kita pilih satu dan tidak pilih yang lainnya, bisa dikatakan kita pilih yang putih bukan yang hitam atau sebaliknya. Dan itu jelas, bukan transisi lagi, abu-abu.

Ya ngomong-ngomong tentang abu-abu, seberapa seringkah anda terjebak pada keadaan seperti ini? Kalau sering apakah kira-kira yang menyebabkannya?  Mungkin juga tergantung dari kenapa kita berada dalam keadaan seperti itu dulu kali ya, bisa karena bingung, nggak ada pilihan yang layak untuk diambil atau pilihannya sama-sama bagusnya. Atau karena ketidak tahuan kita akan hal tertentu dibidang tersebut tapi kita musti ambil pilihan. Atau juga karena kita pada keadaan dimana kita awalnya punya keyakinan A tapi musti berhadapan dengan keadaan B, tapi di B itulah kita seolah harus melangkah.

Bingung khan? Sama, simplenya gini deh untuk keterangan keadaan terakhir. Semisal dulunya kita itu punya keyakinan, kalau lelaki dan perempuan itu ga boleh deket-deket, saling pandang apalagi pegang-pegangan, walau cuman tangan. Tapi karena adanya masa pancaroba yang melanda, sekarang bisa saja kita punya pemikiran seperti orang umumnya, biasa saja lah antara perempuan dan laki-laki itu. Perlu ngobrol yo ketemuan, jumpa ya salaman, senyum ya bales dengan senyum, pacaran it’s Ok.

Nah, kasusnya gini, saat kita misalnya mulai merasa resah dengan keadaan kita karena disisi lain orang sekitar kita dah pada punya pasangan semua. Kita belum ada satu juga dari dulu waktu masih imut-imut sampe sekarang dah amit-amit jenggotan. ingin rasanya ikut mereka, cari pasangan, tapi pada saat itu juga ada dobrakan kuat dalam hati, ada sesuatu yang mengingatkan, apakah hal itu boleh? Kembalilah akidah awal kita itu. Jadi deh akhirnya kita bingung n selalu bimbang mau melangkah.

Kalau dilihat dari sisi agama ini memang salah satu tipuan setan sih. Menghias yang buruk tampak indah dengan membiasakan mata kita padanya. Agar kita tak menyadarinya. Tapi ya itu dia bisikan setannya juga gak ilang-ilang, dah lama nggak diperhatiin juga setannya ga bosen-bosen ganggu kita.

Intinya gini deh, kalau aku kayak gitu. Gak percaya juga sih, betapa bodohnya diri ini terjebak dalam urusan seperti itu. Kadang sering bilang ke diri sendiri ‘buat apa lho pikir, kalau dah waktunya akan ada satu bidadari untukmu’ Tapi di sisi lain seringkali merasa resah itu. Rasanya malu, dah segede gini tapi lom ada pengalaman sama sekali. Ahhh…… entahlah pusing jadinya tulisan kayak gini kok sampe ketulis gimana ya tadi 😛

Gimana pendapat kamu?

1 Million Messages : End The Siege of Gaza

Pekan lalu, ruang operasi di rumah sakit induk Gaza telah ditutup karena kekurangan gas obat-obatan, yang tak diijinkan oleh pihak Israel. Hari ini Israel tidak mengijinkan kecuali 12 bahan pokok untuk masuk Gaza, di samping lebih dari 9.000 komoditas. Mulai dari sabun hingga kopi, air hingga soft drink, bahan bakar minyak hingga gas, komputer sampai spare part dari semen hingga bahan pokok industri, ratusan komoditi lainnya sama sekali tak diijinkan hari ini.

Pihak Israel mengungkapkan rasa kebencian yang amat lekat terhadap penduduk Jalur Gaza. Dan menyatakan untuk lebih intens dan intensif lagi dalam memberikan hukuman kolektif dengan memutus listrik dan bahan bakar. Bank-bank di israel juga memutus hubungan dengan bank milik muslim Palestina di Gaza.

Menghadapi semua itu, telah ada pihak yang mengambil inisiatif untuk membangun Gaza Community Mental Health Programme yang meluncurkan Perjuangan Internasional untuk mengakhiri pengepunagn Gaza-Palestina. Yang bertujuan untuk menaikkan tekanan global terhadap pemerintah Israel terhadap pengepungan yang mereka lakukan atas jalur Gaza.

Awal gerakan ini dimulai sejak November lalu dan akan berkahir hingga pengepungan berakhir pula.

Saudaraku marilah kita lihat kenyataan dan kepedihan yang dirasakan sesama muslim di bumi Palestina. Betapa mereka membutuhkan bantuan dari kita yang mengaku seorang muslim, yang mengaku masih saudara dengan mereka. Apapun mari kita lakukan, paling tidak untuk mengikuti petisi seperti di atas, mungkin hari ini baru itu yang kita bisa, maka lakukan daripada menunda dan hanya diam sambil memaki dalam hati tapi tak mau bertindak. Jika anda ingin mencoba melihat dahulu hasilnya bisa klik di sini.

Bukankah melarang sesuatu hal hanya dengan hati tanpa ucapan dan tindakan itu adalah cerminan iman kita yang amat sangat lemah ?

Bukan Asal Ngomong

[UPDATE – UPDATE] (terutama akhir posting)

Kalau dipikir-pikir memang benar kalau ada yang berpendapat menulis di blog itu layaknya orang yang onani kata-kata. Meskipun saya agak kurang setuju dengan kata onani itu, terlalu kasar, nggak ada pilihan lainkah? Karena memang kadang apa yang kita tulis itu hanya kata-kata nggak jelas yang kita tak tahu dengan sebenar-benarnya. Kita hanya tahu sedikit, tapi kadang kita lantas membuat tulisan yang seolah kita itu orang yang sudah ahli, pakar. Kadang kita menulis seakan kita itu ingin terlihat layaknya orang yang maha tahu. Kita ingin dikenal sebagai orang yang sangat hebat di depan pembaca blog kita.

Karena ingin terlihat hebat de mata para pembaca dan blogger lain itu kadang kita menjadi orang yang overackting. Kita kadang berani menulis layaknya seorang yang mampu mengurus negara ini dengan memberikan kritikan yang amat pedas kepada pemerintah. Yang menurut saya bahkan kadang apa yang kita tulis itu seperti omongan seorang politikus yang ingin membunuh karakter lawan politiknya. Seolah ingin menyampaikan kalau ‘Yang memegang tampuk kekuasaan itu nggak becus, mending saya saja yang mimpin.’

Memang kenapa ? Apa kritikan itu salah ? Nggak juga sih, bahkan mengkritik dan berusaha untuk meluruskan semua hal yang nampak melenceng dari rel yang sebenarnya itu adalah hal wajib yang kudu dilakuin. Karena jika kesalahan kecil kita biarkan, potensi untuk menjadi kesalahan besar akan semakin besar pula. Dan dilihat dari sisi agama hal ini juga salah. Karena sesama muslim, kewajiban kita adalah untuk saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Saling mengingatkan jika ada saudara kita yang berbauat alpha.

Yang saya takutkan hanya satu, karena mengkritik itu relatif lebih enak dan mudah daripada berusaha merealisasikan, sifat manusia, kita sering lupa dan keenakan mengkritik sampai berbicara pada berbagai hal yang kita sendiri saja tidak pernah melakukannya. Kita sendiri belum mengetahui seluk beluk hal itu namun kita berani ngomong, bahkan dengan posisi seolah kita lebih tahu dari orang yang selama ini telah berkecimpung di dalamnya.

Allah pernah berfirman dalam salah satu ayat-Nya “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [QS.Ash-Shaff(61) : 3]. Dari ayat itu kita bisa melihat kalau kita itu dalam berucap ilmu itu wajib kita miliki dulu. Tidak bisa tidak. Kita harus pernah melakukannya atau minimal tahu akan hal tersebut. Karena jika kita tidak tahu ilmunya dan belum pernah melakukannya secara jujur pasti di hati kita akan muncul keraguan di dalamnya. Bukankah dari hal-hal syubhat (meragukan) ini kehancuran akan menghampiri kita. Kerancuan yang disebabkan kita sendiri yang ngomong saja tidak yakin tersebut, akan membawa orang lain yang belum memiliki pemahaman yang mendengar pernyataan kita ke dalam kebingungan dan kesesatan bahkan.

Bukankah itu suatu dosa dan kesalahan yang teramat besar. Kita berniat membuat perubahan, namun ternyata kita tanpa sadar malah membawa diri kita pada hal yang Allah tak ridho atasnya. Kita berniat menjadi pelita, namun di lain sisi kita tak menyadari bahwa kita telah menghancurkan diri kita sendiri. Laksana lilin yang menerangi namun dia sendiri meleleh hingga habis. Hal ini sama dengfan kaum terdahulu (Yahudi). “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu lupa akan kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” [QS. Al-Baqarah (2) : 44]

Yang lebih parah jika kita memendam rasa ragu dalam diri kita namun sangat besar semangat kita untuk mengkritik akhirnya kritikan pun menjadi kritikan tanpa ilmu. Dan jika kritikan tersebut ternyata memperoleh reaksi dan justru membuat orang lain sesat dan berada pada jalan yang salah karena mengikuti kritik tanpa ilmu kita. Dari sini, bukan kebaikan yang kita peroleh. Dan kita sendiri pun justru berada pada posisi menghancurkan orang lain dan juga diri kita. Niat hati menjadi lilin yang bisa menerangi, tapi ternyata karena sumbu yang kedodoran yang menimbulkan api yang menyala-nyala lilin tersebut justru membakar seisi rumah, bukan sekedar dirinya sendiri. Nah lo.

Saya rasa akan lebih enak kalau kita bicara seadanya saja, semampu kita, sesuai dengan realita kita. Jangan kita menjadi orang lain yang berpikir tentang hal yang macem-macem dan mengada-ada. Terlalu muluk. Bicara apa adanya dari apa-apa yang ada.

TV Berusaha Lalaikan Umat dari Allah

Mungkin terkesan kalau saya mengikuti beberapa postingan dari berbagai blogger yang lain. Tapi bukan maksud saya untuk melakukan hal ini sebenarnya, saya sebenarnya sudah punya pikiran untuk menulis tentang tayangan TV ini sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi seperti yang telah saya sampaikan dalam postingan yang telah lalu. Bandwidth saya akhir-akhir ini agak terbatas, jadinya baru bisa posting hari ini.

Saya sempat merasa heran juga dengan berbagai tayangan yang disajikan oleh berbagai stasiun TV kita yang ternyata malah tidak mendukung suasana umat yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Kalau kita lihat sebulan yang lalu tidak banyak stasiun televisi yang  menyiarkan acara-acara yang benar-benar bermuatan islami. Justru sebaliknya, mereka hanya menayangkan lelucon dan dagelan-dagelan yang tak habis-habisnya mulai dari saat sahur sampai mau sahur lagi. Nggak banyak yang mereka tayangkan selain hal-hal seperti itu.

Lebih parahnya lagi, semua diusung dengan kemasan title yang membuat kebanyakan orang merasa kalau apa yang mereka saksikan itu memang benar bermuatan Islam. Kata-kata semacam Indahnya Ramadhan, Ramadhan Penuh Berkah, atau apalah yang nggak jauh-jauh amat dengan hal itu menjadi bumbu pemanis bagi acara-acara mereka yang sebenarnya entah apa maksud isinya. Bahkan pada sekitar hari raya, masih ditambah mengherankan pula ‘slogan-slogan’ tersebut. Keajaiban Fitri atau apalah, yang nyatana isinya ya sama cuman lelucon yang sebenarnya nggak lucu.

 Acara yang membangkitkan semangat untuk beribadah, menceritakan sejarah perkembangan islam, menceritakan kehidupan muslim di berbagai belahan dunia, memperkuat rasa kasih sayang seiman, yang menyajikan pengajaran agama dengan cara yang mudah dan sesuai dengan syariat boleh dibilang sangat sedikit kalau nggak mau dibilang nggak ada. Paling hanya satu sinetron yang sering ditayangkan pasa sahur di SCTV, Para Pencari Tuhan itu yang ternilai sedikit baik dimata pemirsa televisi. Selainnya, sampah.

Bukankah terlalu banyak tertawa itu akan melalaikan kita dari mengingat Allah ?  Lantas apa yang mereka ( para penyedia layanan televisi ) inginkan dari acara yang mereka tampilka ? Apakah mereka ingin agar ummat lupa akan Allah di bulan Ramadhan yang semestinya menjadi bulan yang penuh kesempatan untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya ? Mengapa mereka begitu gencar menayangkan hal-hal yang tidak berguna itu sepanjang hari selama satu bulan penuh ?

Hahh, sudahlah daripada kita memikirkan tentang mereka, yang kita sudah tahu, kepada siapa sebenarnya mereka memihak, (bukan kepada ummat pastinya khan)  mending kita jauhi saja berbagai acara seperti itu.

Syukur dan Improvisasi

Berawal dari rasa bingung memikiran diri sendiri, yang kadang kebingungan untuk menyikapi kondisi diri saat ini. Terutama jika mencoba untuk mengajak kepala membayangkan wajah dan diri ini lima, sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang. Mencoba membuat jalinan tayangan fiktif tetang diri sendiri. Mencoba untuk merangkai rangkaian frame-frame kehidupan yang menurut saya dapat saja terjadi. Jika hal yang saat ini selaudan selalu saya lakukan.

Kadang, saya jadi takut, ngeri dan tak sanggup untuk berlama-lama berpikir tentang hal tersebut. Saya jadi resah dan gelisah danseringkali saya pun merasa marah terhadap diri saya sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi, apakah yang kurang dari diri ini. Bisanya saya terpuruk ?

Anda ? Pernah juga ? Saya rasa ya ? Setiap orang pastinya pernah merasa bahwa dia pada suatu saat berada pada kondisi yang tidak mengenakkan dan ia benci. Semua orang pastinya pernah merasa gagal, hancur, terjebak kondisi, atau apalah. Yang jelas hal yang tidak membuat hati kita senang dan tenang, hal yang kadang membuat kita merasa rugi, merasa dicurangi dan merasa bahwa ini bukan sesuatu yang adil.

Bermula dari rasa itu, pastinya anda juga pernah merasa bahwa Tuhan sedang tak berbaik hati pada kita. Tuhan berlaku tak adil pada kita. Kita dicurangi oleh-Nya. Atau apalah.  Yang jelas rasa yang seringkali muncul itu membuat kita seringkali kurang bersyukur, kita merasa bahwa apa yang telah diberikan-Nya masih belum cukup. Kita merasa kita butuh lebih, bukan sekedar yang seperti ini ya Allah.. Bahkan sering kita berlaku yang lebih ‘parah’ dari sekedar itu. Kita merasa seolah kita tidak akan bisa lebih baik, karena Allah saja tak berpihak pada kita.

Yang ternyata yang demikian itu ternyata membawa kita untuk mnjadi hamba yang telah berlaku kufur, tidak bersyukur atas apa yang telah ia berikan. Kita yang tadinya memimpikan kemajuan dan improvisasi dari diri ini dalam masa yang akan datang, pada akhirnya justru menjadi orang yang berprasangka brurk terhadap nasib yang telah Ia gariskan. Sungguh yang seperti ini adalah suatu hal yang memprihatinkan diri dan bencana yang besar sebenarnya.

Dari ingin maju atau berimprovisasi ternyata membawa kita menjadi orang yang kufur, dan bahkan berprasangka buruk akan nikmat-Nya. Dimana dari prasangka buruk ini  sangat besar kemungkinan akan membawa kita pada keputusasaan dari nikmatnya. Yang sudah jelas berputus asa adalah suatu dosa yang besar. “Tiada berputus asa dari nikmat Allah kecuali orang-orang yang kafir”. 

Dan memang benar,  putus asa dilihat dari penalaran saja memang merupakan sesuatu yang akan membuat kita benar-benar akan hancur. Kita tak akan pernah mau mencoba untuk bangkit dan berusaha untuk menegejar ketertinggalan kita dan memperbaiki kesalahan kita yang telah kita lakukan dalam sejarah hidup kita. Tak akan ada tekad dalam keputusasaan. Dan tak ada kemajuan tanpa tekad. Tanpa kemajuan hanya ada kesia-siaan.

Sikap terbaik dalam menghadapi segala hal yang kita alami dan hadapi mungkin sebenarnay adalah selalu dan selalu memperpanjang tali kesabaran dalam diri kita. Bukan merenung, tapi hanya pada paoint yang membuat kita sakit hati. Pada kesalahan kecil yang kita lakukan namun berakibat sangatlah besar dalam hadup kita. Syukur adalah yang paling baik. Dengan syukur kita akan menjadi penuh semangat dan harapan, dengan syukur akan menguatkan daya juang dan kwalitas jiwa kita. Bukan kehidupan bila kita belum pernah sekali saja terjatuh. Justru dari jatuh itu kita akan semakin kuat dan perkasa.

Jadi apakah improvisasi itu adalah sesuatu yang tidak boleh kita angankan ? Dan apakah improvisasi adalah sesuatu yang hanya membuat kita sengsara saja ? Lantas dengan bekal apa kita hidup jika kita tak mengusung semangat untuk maju ? Pertanyaan bodoh……….