Wilayah Abu-Abu

Wilayah abu-abu, begitulah orang sering kali menyebutnya. Saat kita tidak jelas berada dimana saat ada dua pilihan atau lebih yang mana kita harus menentukan salah satu sebagai pilihan. Disebut-sebut sebagai abu-abau karena saat kita berada pada kondisi seperti ini memang tidak jelas dimana keberpihakan kita. Kalau kita pilih satu dan tidak pilih yang lainnya, bisa dikatakan kita pilih yang putih bukan yang hitam atau sebaliknya. Dan itu jelas, bukan transisi lagi, abu-abu.

Ya ngomong-ngomong tentang abu-abu, seberapa seringkah anda terjebak pada keadaan seperti ini? Kalau sering apakah kira-kira yang menyebabkannya?  Mungkin juga tergantung dari kenapa kita berada dalam keadaan seperti itu dulu kali ya, bisa karena bingung, nggak ada pilihan yang layak untuk diambil atau pilihannya sama-sama bagusnya. Atau karena ketidak tahuan kita akan hal tertentu dibidang tersebut tapi kita musti ambil pilihan. Atau juga karena kita pada keadaan dimana kita awalnya punya keyakinan A tapi musti berhadapan dengan keadaan B, tapi di B itulah kita seolah harus melangkah.

Bingung khan? Sama, simplenya gini deh untuk keterangan keadaan terakhir. Semisal dulunya kita itu punya keyakinan, kalau lelaki dan perempuan itu ga boleh deket-deket, saling pandang apalagi pegang-pegangan, walau cuman tangan. Tapi karena adanya masa pancaroba yang melanda, sekarang bisa saja kita punya pemikiran seperti orang umumnya, biasa saja lah antara perempuan dan laki-laki itu. Perlu ngobrol yo ketemuan, jumpa ya salaman, senyum ya bales dengan senyum, pacaran it’s Ok.

Nah, kasusnya gini, saat kita misalnya mulai merasa resah dengan keadaan kita karena disisi lain orang sekitar kita dah pada punya pasangan semua. Kita belum ada satu juga dari dulu waktu masih imut-imut sampe sekarang dah amit-amit jenggotan. ingin rasanya ikut mereka, cari pasangan, tapi pada saat itu juga ada dobrakan kuat dalam hati, ada sesuatu yang mengingatkan, apakah hal itu boleh? Kembalilah akidah awal kita itu. Jadi deh akhirnya kita bingung n selalu bimbang mau melangkah.

Kalau dilihat dari sisi agama ini memang salah satu tipuan setan sih. Menghias yang buruk tampak indah dengan membiasakan mata kita padanya. Agar kita tak menyadarinya. Tapi ya itu dia bisikan setannya juga gak ilang-ilang, dah lama nggak diperhatiin juga setannya ga bosen-bosen ganggu kita.

Intinya gini deh, kalau aku kayak gitu. Gak percaya juga sih, betapa bodohnya diri ini terjebak dalam urusan seperti itu. Kadang sering bilang ke diri sendiri ‘buat apa lho pikir, kalau dah waktunya akan ada satu bidadari untukmu’ Tapi di sisi lain seringkali merasa resah itu. Rasanya malu, dah segede gini tapi lom ada pengalaman sama sekali. Ahhh…… entahlah pusing jadinya tulisan kayak gini kok sampe ketulis gimana ya tadi😛

Gimana pendapat kamu?

2 thoughts on “Wilayah Abu-Abu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s