Syukur dan Improvisasi

Berawal dari rasa bingung memikiran diri sendiri, yang kadang kebingungan untuk menyikapi kondisi diri saat ini. Terutama jika mencoba untuk mengajak kepala membayangkan wajah dan diri ini lima, sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang. Mencoba membuat jalinan tayangan fiktif tetang diri sendiri. Mencoba untuk merangkai rangkaian frame-frame kehidupan yang menurut saya dapat saja terjadi. Jika hal yang saat ini selaudan selalu saya lakukan.

Kadang, saya jadi takut, ngeri dan tak sanggup untuk berlama-lama berpikir tentang hal tersebut. Saya jadi resah dan gelisah danseringkali saya pun merasa marah terhadap diri saya sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi, apakah yang kurang dari diri ini. Bisanya saya terpuruk ?

Anda ? Pernah juga ? Saya rasa ya ? Setiap orang pastinya pernah merasa bahwa dia pada suatu saat berada pada kondisi yang tidak mengenakkan dan ia benci. Semua orang pastinya pernah merasa gagal, hancur, terjebak kondisi, atau apalah. Yang jelas hal yang tidak membuat hati kita senang dan tenang, hal yang kadang membuat kita merasa rugi, merasa dicurangi dan merasa bahwa ini bukan sesuatu yang adil.

Bermula dari rasa itu, pastinya anda juga pernah merasa bahwa Tuhan sedang tak berbaik hati pada kita. Tuhan berlaku tak adil pada kita. Kita dicurangi oleh-Nya. Atau apalah.  Yang jelas rasa yang seringkali muncul itu membuat kita seringkali kurang bersyukur, kita merasa bahwa apa yang telah diberikan-Nya masih belum cukup. Kita merasa kita butuh lebih, bukan sekedar yang seperti ini ya Allah.. Bahkan sering kita berlaku yang lebih ‘parah’ dari sekedar itu. Kita merasa seolah kita tidak akan bisa lebih baik, karena Allah saja tak berpihak pada kita.

Yang ternyata yang demikian itu ternyata membawa kita untuk mnjadi hamba yang telah berlaku kufur, tidak bersyukur atas apa yang telah ia berikan. Kita yang tadinya memimpikan kemajuan dan improvisasi dari diri ini dalam masa yang akan datang, pada akhirnya justru menjadi orang yang berprasangka brurk terhadap nasib yang telah Ia gariskan. Sungguh yang seperti ini adalah suatu hal yang memprihatinkan diri dan bencana yang besar sebenarnya.

Dari ingin maju atau berimprovisasi ternyata membawa kita menjadi orang yang kufur, dan bahkan berprasangka buruk akan nikmat-Nya. Dimana dari prasangka buruk ini  sangat besar kemungkinan akan membawa kita pada keputusasaan dari nikmatnya. Yang sudah jelas berputus asa adalah suatu dosa yang besar. “Tiada berputus asa dari nikmat Allah kecuali orang-orang yang kafir”. 

Dan memang benar,  putus asa dilihat dari penalaran saja memang merupakan sesuatu yang akan membuat kita benar-benar akan hancur. Kita tak akan pernah mau mencoba untuk bangkit dan berusaha untuk menegejar ketertinggalan kita dan memperbaiki kesalahan kita yang telah kita lakukan dalam sejarah hidup kita. Tak akan ada tekad dalam keputusasaan. Dan tak ada kemajuan tanpa tekad. Tanpa kemajuan hanya ada kesia-siaan.

Sikap terbaik dalam menghadapi segala hal yang kita alami dan hadapi mungkin sebenarnay adalah selalu dan selalu memperpanjang tali kesabaran dalam diri kita. Bukan merenung, tapi hanya pada paoint yang membuat kita sakit hati. Pada kesalahan kecil yang kita lakukan namun berakibat sangatlah besar dalam hadup kita. Syukur adalah yang paling baik. Dengan syukur kita akan menjadi penuh semangat dan harapan, dengan syukur akan menguatkan daya juang dan kwalitas jiwa kita. Bukan kehidupan bila kita belum pernah sekali saja terjatuh. Justru dari jatuh itu kita akan semakin kuat dan perkasa.

Jadi apakah improvisasi itu adalah sesuatu yang tidak boleh kita angankan ? Dan apakah improvisasi adalah sesuatu yang hanya membuat kita sengsara saja ? Lantas dengan bekal apa kita hidup jika kita tak mengusung semangat untuk maju ? Pertanyaan bodoh……….

2 thoughts on “Syukur dan Improvisasi

  1. hampir sepanjang hidupku aku selalu membenci hidupku, tapi setelah punya shiva semua itu berubah, ternyata tuhan memang tahu apa yang kita butuhkan

    anak-anak memang cahaya dalam hidup kita mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s