Merangkai Mimpi

Meski saya bukanlah orang yang menyukai segala macam rupa perayaan dan pesta pora namun saya rasa menulis ini juga bukan suatu kesalahan dan dosa. Tak terasa sudah sekian lama waktu yang saya lalui di dunia ini. Hari ini sudah dua puluh tahun aku berdiri di dunia ini. Sudah ikut serta menyaksikan rona rupa dunia yang penuh dengan keragaman dan keindahan sekaligus kebusukan. Sudah banyak kesalahan dan dosa yang sudah saya lakukan. Dan semakin banyak saja hal yang musti saya pertanggungjawabkan kelak di hari akhir.

Senang dengan yang seperti ini ? Mungkin ya, tapi apakah hanya cukup , dihadapi dengan pesta pora dan bersenang-senang belaka ?  Dosa besar, dosa bila kita menghadapi hari yang kita rasa penting dan baik dalam hidup kita ini hanya dengan perayaan dan seremonial belaka. Kesalahan yang sangat fatal jika kita menganggap ini adalah hari besar kemudian kita meninggalkan hari ini dengan melakukan kesalahan dan sesuatu yang tidak perlu.

Bukan itu yang kita perlukan. Satu yang pasti, harusnya kita merenungi dan berpikir tentang apa yang telah kita lalui itu. Berapa besar kesalahan dan negative point yang ada dalam diri kita dan layak untuk segera kita singkirkan dari hidup ini. Berapa pula positive side yang ada dalam diri kita, yang jika kita bina dan kita kembangkan akan membuat kehidupan kita itu akan menjadi hal yang lebih baik. Hendaknya moment seperti ini menjadi pengingat diri akan masih besarnya tanggungjawab kita sebagai seorang kalifah di dunia ini. Kita harus terpacu untuk menjadikan diri kita dan kehidupan orang di sekitar kita menjadi paling tidak selangkah lebih maju dari orang lain.

Sudah saatnya bagi kita untuk melihat diri sendiri lebih lekat dan menyaksikan lekat-lekat para tetangga kita yang mampu dengan baik mengambil kesuksesan dalam hidup ini. Selayaknya kita sadar bahwa kita telah tertinggal jauh dari orang-orang di sekitar kita. Dan ini adalah saat bagi kita untuk bangkit pula dengan bertolak pada ingatan kita akan perjuangan para pendahulu kita. Betapa sayang pengorbanan mereka untuk kita sia-siakan saja. Saatnya kita merangkai mimpi dan harapan akan apa yang harus kita peroleh esok hari. Jika mereka bisa, mengapa kita tidak ?

Bukan menghadapi moment berarti — yang sebenarnya sama saja dengan hari biasanya — yang bisa kita gunakan untuk berkaca tetang semua yang telah lalu ini dengan berperilaku yang justru bertentangan dengan arti dari ‘hari istimewa’ itu. Berperilaku yang justru menghancurkan diri kita sendiri. Mari berpikir untuk bisa lebih baik !!

Teruntuk diri ini dan negeri ini Ingatlah ini dengan baik.

Sragen, August 16 2007

6 thoughts on “Merangkai Mimpi

  1. waaahhh beruntung sekali Indonesia punya warga negara seperti kamu, Nas! coba aku…tadi aja aku marah2 disuruh pasang bendera di depan rumah. malah aku ngancem Mama bakalan masang bendera Jerman!! wakakakaka…nasionalisme busuk nih…


  2. @muthe
    sebenernya aku juga nggak begitu suka dengan kondisi bangsa ini, tapi sebagai orang yang besar dan betumbuh dari tempat ini, cinta padanya khan suatu hal yang wajib dan sesuai naluri🙂
    @ayahshiva
    aku juga belum pasang euy🙂 yang penting khan isi hatinya, semangatnya bukan gerak tubuh yang sering kali penuh kedustaan.
    @cK
    MERDEKAAAA !!!!

  3. wedew .. merdeka uiiii …. !!!

    gue mah dah nagnggep pemerentah indo skarng kaya lupa ma kulit na… durhaka duuuhh.. pada ngurusin “rakyat dalem” dowank , eh jejak Pa Karno ga di lanjutin, perhatiin tuh rakyat di Luar .. !!😦😀

    Yup, bener banget tuh, setuju dah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s