Negara < Perut

Sebelumnya maaf bila bahasanya ketinggian. Tapi menurut saya memang hal itu bukanlah sesuatu yang amat-amat salah. Ada benarnya bahkan. Fakta menunjukkan kalau akhir-akhir ini saya jadi agak resah dan bingung sendiri bagaimana penyakit macam gini, penyakit yang seharusnya hanya banyak diidap oleh orang-orang perkotaan ang pastinya lebih mengalami persaingan hebat dalam mencari makan bisa dengan begitu cepatnya menjalar ke pedesaan seperti kampung halaman saya. Yang jarakna dari kota kabupaten saja lebih dari 20 km.

Penyakit apakah itu ? Seperti yang sering kita lihat, penyakit ini adalah penyakit mementingkan perut sendiri tanpa mau berpikir lebih jauh tetang nasibnya sendiri di masa mendatang. Nasib perutnya juga termasuk dalam masa depan ini  tentunya. Betapa mereka dengan tanpa mau berpikir jernih melakukan kesalahan yang kelihatannya sepele tapi ternyata amat sangalah besar dan berbahaya ini. Mereka seolah sayang terhadap diri mereka dengan memberinya hal yang lebih baik padahal tidak, sama sekali tidak justru sebaliknya.

Hah, posting kok nggak jelas, mau ngomong apa sih buruan ! Ok, sebenarnya kasusnya sepele banget, aku cuman heran dengan kebiasaan masyarakat sekitarku. Kok mereka saat ini begitu merasa nggak biasa ya kalau ada pemilihan kades tanpa ada uang yang beredar secara gelap-gelapan. Atau mungkin sekarang sudah jadi terang-terangan ? Tapi yang jelas patokan mereka dalam memilih seringkali liat yang mana yang kasih uangnya yang lebih gede.

Bahkan dari sekian banyak kabar adanya acara pemilihan kepala desa, di seantero kabupaten ini, semua sepertinya memakai cara yang sama dalam mencari pendukung. Duh, makin prihatin saja. Bahkan lagi nih, ada yang pernah cerita tentang pemilihan di daerahnya bahwa kader suatu calon dapat dengan mudah berpindah dukungan dengan hanya di timpuk beberapa ratus ribu rupiah saja. Dukungan gombal ! Kalau sudah begini terus gimana donk ? Nampaknya kabupatenku yang ceritanya memiliki bupati terkaya nomor wahid di negeri ini bakalan ambruk nih, bayangin aja untuk jadi kades saja habis setengah milyard, trus apa yang akan dikorupsi untuk mengembalikan modalnya ya ?

Anehnya lagi masyarakat  yang diberi uang itu juga nggak mikir, mau aja milih orang yang kasih uang. kalau uangnya sih ga pa-pa, orang diberi kok. Apakah masih perlu ada beban mental dalam permainan kotor semacam ini ?

Eh, ngomong-ngomong apa nggak ada tim pengawas juga sih ?

12 thoughts on “Negara < Perut

  1. yah, bukannya itu sudah jadi hal yang ‘lumrah’, dan itu emang terjadi dimana-mana kan?? saya nggak tahu, apa karena tingkat pendidkan yang rendah, atau emang muda dibodoh2in, mau aja nerima janji palsu dari para calon pejabat, termasuk duitnya. yap, emang begitulah negara kita…

    Ih ngeri deh, ternyata memang sudah menyebar dimana-mana ya ?😦

  2. hanya seorang calon kades yg benar2 dituakan dapat bersaing dengan calon2 yg ber-uang … kalau pun ada yg dituakan …😦

    Yap, kalau ada, sayangnya anak muda jaman sekarang jarang yang menghargai yang lebih tua tuh😦

  3. sebabnya kenapa begitu, ingat iklan terbaru rokok mild:
    “suara yang muda tidak didengar” jadinya perut lebih besar dari Negara. pernyataan itu benar karena perut itu semua makanan pasar masuk juga kan di perut hehehe…

    Iya juga ya, nggak ada perut juga bakal kacaow pastinya nggak bisa hidup apalagi mikir negara😉

  4. Mben aku yo pernah ngobrol nak warung karo kancaku. tapi kasusnya udah beda. Ini malah di kasus ijin pendirian sebuah “xyz”. Dia cerita kalo dulu gak ada “uang panas” izinnya gak bakal keluar-keluar, dan lagi-lagi… kembali ke urusan perut.

    “Lha nek gak digawe-gawe xzy te, anak bojo bakopoal mangan ?” begitu ceritanya ngomongke omongan salah pihak yang ngurusin pendirian xyz itu.

    Sampe mikir soal idealisme. Apakah orang idealis masih bisa tetep hidup jika udah dihadapkan dengan kasus seperti itu. Apakah perlu memkomremais idealisme?

    piye jal?

    Jaman koyo ngene ketoke idealisme wis ora payu mas. Mending manut nduwuran, mesti selamet😦

  5. Berarti seluruh negara dan seisinya bisa-bisa ikutan diuntal masuk perut ya? Lha kuwi rak wetenge Togog, sing karepe nguntal ndonya, neng ora iso ngetokake. Jadinya ya kayak gitu, Togog tu mulutnya sobek, perutnya njembling. Kesimpulan: negara ini = negara Togog kah?

    Negara dengan para pemimpim mirip togog Dee, tapi sing ombo dudu cangkeme mergo suwek, ning kebone saking okehe duwit sing di untal dewe, wetenge kok yo ora njembling-njembling ya🙂

  6. itulah indonesia udah jadi budaya yang susah untuk di rubah kalo ada perhelatan yang melibatkan banyak orang mesti ada uang nya

    sudah tradisi dan uang adalah wajib😦

  7. Busyet…nyalon kades bisa harus siap duit 500 juta?
    weleh2…bener Mas Anas…gimana bisa balik modal tuch?😀
    Pejuang benar2 telah dikalahkan oleh ber-uang

    Bener abis segitu tapi setelah itu ngelu mukir nyaur utange, apalah arti pejuang mas jaman sekarang uang jauh lebih mahal dari sekedar daya juang

  8. cuman nanya duid 500 jt tuh dapetnya gimana??…hehehe

    Ngutang dari sodaranya yang lumayan banyak duit, tapi kayaknya kurang kerjaan banget ya

  9. rapa banyak tuh sodara yg dipinjemin?? mangnya ada orang yg punya sodara yg minjemin duid gede di jaman sesulit ini? seenggaknya minimal 100 orang…emang kurang kerjaan

    Dari satu sodara, juragan sih, tapi keliatannya sang peminjam menjadi decking yang asal saja memberikan duit, tapi akhirnya ia juga minta kembali

  10. Berarti nggak benar ya kabar burung yang bilang, rakyat Indonesia itu takut miskin? Lha itu buktinya buat nyalon kades aja mesti modal dulu 500 juta… padahal kepilih juga belum tentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s