Arsip untuk Kategori 'agama'

1 Million Messages : End The Siege of Gaza

Pekan lalu, ruang operasi di rumah sakit induk Gaza telah ditutup karena kekurangan gas obat-obatan, yang tak diijinkan oleh pihak Israel. Hari ini Israel tidak mengijinkan kecuali 12 bahan pokok untuk masuk Gaza, di samping lebih dari 9.000 komoditas. Mulai dari sabun hingga kopi, air hingga soft drink, bahan bakar minyak hingga gas, komputer sampai spare part dari semen hingga bahan pokok industri, ratusan komoditi lainnya sama sekali tak diijinkan hari ini.

Pihak Israel mengungkapkan rasa kebencian yang amat lekat terhadap penduduk Jalur Gaza. Dan menyatakan untuk lebih intens dan intensif lagi dalam memberikan hukuman kolektif dengan memutus listrik dan bahan bakar. Bank-bank di israel juga memutus hubungan dengan bank milik muslim Palestina di Gaza.

Menghadapi semua itu, telah ada pihak yang mengambil inisiatif untuk membangun Gaza Community Mental Health Programme yang meluncurkan Perjuangan Internasional untuk mengakhiri pengepunagn Gaza-Palestina. Yang bertujuan untuk menaikkan tekanan global terhadap pemerintah Israel terhadap pengepungan yang mereka lakukan atas jalur Gaza.

Awal gerakan ini dimulai sejak November lalu dan akan berkahir hingga pengepungan berakhir pula.

Saudaraku marilah kita lihat kenyataan dan kepedihan yang dirasakan sesama muslim di bumi Palestina. Betapa mereka membutuhkan bantuan dari kita yang mengaku seorang muslim, yang mengaku masih saudara dengan mereka. Apapun mari kita lakukan, paling tidak untuk mengikuti petisi seperti di atas, mungkin hari ini baru itu yang kita bisa, maka lakukan daripada menunda dan hanya diam sambil memaki dalam hati tapi tak mau bertindak. Jika anda ingin mencoba melihat dahulu hasilnya bisa klik di sini.

Bukankah melarang sesuatu hal hanya dengan hati tanpa ucapan dan tindakan itu adalah cerminan iman kita yang amat sangat lemah ?

Bukan Asal Ngomong

[UPDATE - UPDATE] (terutama akhir posting)

Kalau dipikir-pikir memang benar kalau ada yang berpendapat menulis di blog itu layaknya orang yang onani kata-kata. Meskipun saya agak kurang setuju dengan kata onani itu, terlalu kasar, nggak ada pilihan lainkah? Karena memang kadang apa yang kita tulis itu hanya kata-kata nggak jelas yang kita tak tahu dengan sebenar-benarnya. Kita hanya tahu sedikit, tapi kadang kita lantas membuat tulisan yang seolah kita itu orang yang sudah ahli, pakar. Kadang kita menulis seakan kita itu ingin terlihat layaknya orang yang maha tahu. Kita ingin dikenal sebagai orang yang sangat hebat di depan pembaca blog kita.

Karena ingin terlihat hebat de mata para pembaca dan blogger lain itu kadang kita menjadi orang yang overackting. Kita kadang berani menulis layaknya seorang yang mampu mengurus negara ini dengan memberikan kritikan yang amat pedas kepada pemerintah. Yang menurut saya bahkan kadang apa yang kita tulis itu seperti omongan seorang politikus yang ingin membunuh karakter lawan politiknya. Seolah ingin menyampaikan kalau ‘Yang memegang tampuk kekuasaan itu nggak becus, mending saya saja yang mimpin.’

Memang kenapa ? Apa kritikan itu salah ? Nggak juga sih, bahkan mengkritik dan berusaha untuk meluruskan semua hal yang nampak melenceng dari rel yang sebenarnya itu adalah hal wajib yang kudu dilakuin. Karena jika kesalahan kecil kita biarkan, potensi untuk menjadi kesalahan besar akan semakin besar pula. Dan dilihat dari sisi agama hal ini juga salah. Karena sesama muslim, kewajiban kita adalah untuk saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Saling mengingatkan jika ada saudara kita yang berbauat alpha.

Yang saya takutkan hanya satu, karena mengkritik itu relatif lebih enak dan mudah daripada berusaha merealisasikan, sifat manusia, kita sering lupa dan keenakan mengkritik sampai berbicara pada berbagai hal yang kita sendiri saja tidak pernah melakukannya. Kita sendiri belum mengetahui seluk beluk hal itu namun kita berani ngomong, bahkan dengan posisi seolah kita lebih tahu dari orang yang selama ini telah berkecimpung di dalamnya.

Allah pernah berfirman dalam salah satu ayat-Nya “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [QS.Ash-Shaff(61) : 3]. Dari ayat itu kita bisa melihat kalau kita itu dalam berucap ilmu itu wajib kita miliki dulu. Tidak bisa tidak. Kita harus pernah melakukannya atau minimal tahu akan hal tersebut. Karena jika kita tidak tahu ilmunya dan belum pernah melakukannya secara jujur pasti di hati kita akan muncul keraguan di dalamnya. Bukankah dari hal-hal syubhat (meragukan) ini kehancuran akan menghampiri kita. Kerancuan yang disebabkan kita sendiri yang ngomong saja tidak yakin tersebut, akan membawa orang lain yang belum memiliki pemahaman yang mendengar pernyataan kita ke dalam kebingungan dan kesesatan bahkan.

Bukankah itu suatu dosa dan kesalahan yang teramat besar. Kita berniat membuat perubahan, namun ternyata kita tanpa sadar malah membawa diri kita pada hal yang Allah tak ridho atasnya. Kita berniat menjadi pelita, namun di lain sisi kita tak menyadari bahwa kita telah menghancurkan diri kita sendiri. Laksana lilin yang menerangi namun dia sendiri meleleh hingga habis. Hal ini sama dengfan kaum terdahulu (Yahudi). “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu lupa akan kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” [QS. Al-Baqarah (2) : 44]

Yang lebih parah jika kita memendam rasa ragu dalam diri kita namun sangat besar semangat kita untuk mengkritik akhirnya kritikan pun menjadi kritikan tanpa ilmu. Dan jika kritikan tersebut ternyata memperoleh reaksi dan justru membuat orang lain sesat dan berada pada jalan yang salah karena mengikuti kritik tanpa ilmu kita. Dari sini, bukan kebaikan yang kita peroleh. Dan kita sendiri pun justru berada pada posisi menghancurkan orang lain dan juga diri kita. Niat hati menjadi lilin yang bisa menerangi, tapi ternyata karena sumbu yang kedodoran yang menimbulkan api yang menyala-nyala lilin tersebut justru membakar seisi rumah, bukan sekedar dirinya sendiri. Nah lo.

Saya rasa akan lebih enak kalau kita bicara seadanya saja, semampu kita, sesuai dengan realita kita. Jangan kita menjadi orang lain yang berpikir tentang hal yang macem-macem dan mengada-ada. Terlalu muluk. Bicara apa adanya dari apa-apa yang ada.

TV Berusaha Lalaikan Umat dari Allah

Mungkin terkesan kalau saya mengikuti beberapa postingan dari berbagai blogger yang lain. Tapi bukan maksud saya untuk melakukan hal ini sebenarnya, saya sebenarnya sudah punya pikiran untuk menulis tentang tayangan TV ini sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi seperti yang telah saya sampaikan dalam postingan yang telah lalu. Bandwidth saya akhir-akhir ini agak terbatas, jadinya baru bisa posting hari ini.

Saya sempat merasa heran juga dengan berbagai tayangan yang disajikan oleh berbagai stasiun TV kita yang ternyata malah tidak mendukung suasana umat yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Kalau kita lihat sebulan yang lalu tidak banyak stasiun televisi yang  menyiarkan acara-acara yang benar-benar bermuatan islami. Justru sebaliknya, mereka hanya menayangkan lelucon dan dagelan-dagelan yang tak habis-habisnya mulai dari saat sahur sampai mau sahur lagi. Nggak banyak yang mereka tayangkan selain hal-hal seperti itu.

Lebih parahnya lagi, semua diusung dengan kemasan title yang membuat kebanyakan orang merasa kalau apa yang mereka saksikan itu memang benar bermuatan Islam. Kata-kata semacam Indahnya Ramadhan, Ramadhan Penuh Berkah, atau apalah yang nggak jauh-jauh amat dengan hal itu menjadi bumbu pemanis bagi acara-acara mereka yang sebenarnya entah apa maksud isinya. Bahkan pada sekitar hari raya, masih ditambah mengherankan pula ’slogan-slogan’ tersebut. Keajaiban Fitri atau apalah, yang nyatana isinya ya sama cuman lelucon yang sebenarnya nggak lucu.

 Acara yang membangkitkan semangat untuk beribadah, menceritakan sejarah perkembangan islam, menceritakan kehidupan muslim di berbagai belahan dunia, memperkuat rasa kasih sayang seiman, yang menyajikan pengajaran agama dengan cara yang mudah dan sesuai dengan syariat boleh dibilang sangat sedikit kalau nggak mau dibilang nggak ada. Paling hanya satu sinetron yang sering ditayangkan pasa sahur di SCTV, Para Pencari Tuhan itu yang ternilai sedikit baik dimata pemirsa televisi. Selainnya, sampah.

Bukankah terlalu banyak tertawa itu akan melalaikan kita dari mengingat Allah ?  Lantas apa yang mereka ( para penyedia layanan televisi ) inginkan dari acara yang mereka tampilka ? Apakah mereka ingin agar ummat lupa akan Allah di bulan Ramadhan yang semestinya menjadi bulan yang penuh kesempatan untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya ? Mengapa mereka begitu gencar menayangkan hal-hal yang tidak berguna itu sepanjang hari selama satu bulan penuh ?

Hahh, sudahlah daripada kita memikirkan tentang mereka, yang kita sudah tahu, kepada siapa sebenarnya mereka memihak, (bukan kepada ummat pastinya khan)  mending kita jauhi saja berbagai acara seperti itu.

Halaman Berikutnya »


Arsip Tulisan

Disclaimer !!

Semua tulisan dalam blog ini hanya berupa berbagai hal yang terlintas dalam pikiran saya. Saya tidak bertanggung jawab atas semua kerugian apapun yang dimungkinkan terjadi karena anda mengikuti apa yang saya tulis. So, be wise, risk in yuor own hand !!

Kategori

Propaganda

Condemn Israel !!

Visit Indonesia 2008

Secure Your PC

avast! Home

Download Day

Banners

Stats

Thank's To

  • 24,346 this blog visitors